Kabar hilangnya pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan menyita perhatian publik dan turut menyorot sosok Andy Dahananto, pilot senior Indonesia Air Transport yang menerbangkan pesawat tersebut.
Insiden terjadi pada Sabtu (17/1/2026) ketika pesawat dengan rute Yogyakarta–Makassar dilaporkan hilang kontak sebelum mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Sejumlah saksi mata menyebut pesawat sempat terbang rendah sebelum diduga menghantam lereng Gunung Bulusaraung.
Di tengah proses pencarian, publik mulai menelusuri rekam jejak Kapten Andy Dahananto yang dikenal sebagai pilot berpengalaman dengan jam terbang panjang di industri penerbangan nasional.
Profil Kapten Andy Dahananto
Mengutip Tribun Timur, Kapten Andy Dahananto berasal dari Surabaya dan tercatat berdomisili di Tangerang. Ia merupakan alumnus SMA Negeri 66 Jakarta. Selepas pendidikan menengah, Andy melanjutkan studi penerbangan di Juanda Flying School Surabaya dan lulus pada 1987.
Sejak awal kariernya, Andy menekuni dunia penerbangan sebagai pilot pesawat sayap tetap (fixed wing). Puluhan tahun berkiprah di industri ini membuatnya dipercaya menduduki posisi Direktur Operasi Indonesia Air Transport sejak Juni 2019. Jabatan tersebut menempatkannya sebagai penanggung jawab utama aspek keselamatan, kelayakan operasional, serta manajemen penerbangan perusahaan.
Di usia 52 tahun, Andy masih aktif menjalankan tugas terbang. Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang diterbangkannya bukan armada baru baginya. Ia diketahui telah mengoperasikan jenis pesawat tersebut sejak 2016 atau hampir satu dekade terakhir.
Selain berkiprah di maskapai, Andy juga tercatat sebagai kapten surveillance di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kepercayaan ini menunjukkan pengalamannya tidak hanya digunakan untuk penerbangan komersial, tetapi juga misi-misi khusus negara.
Kronologi Hilangnya Pesawat
Pada Sabtu siang sekitar pukul 13.00 WITA, pesawat ATR yang diterbangkan Kapten Andy dilaporkan hilang kontak saat mendekati Makassar. Saksi mata menyebut pesawat terlihat terbang rendah sebelum menghantam lereng gunung. Seorang pendaki bahkan mengaku menemukan serpihan pesawat disertai api yang masih menyala di lokasi kejadian.
Di dalam pesawat terdapat 11 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang, termasuk Kapten Andy sebagai pilot. Posisi terakhir pesawat terdeteksi di kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, pada koordinat 04°57’08” LS dan 119°42’54” BT.
Basarnas Makassar segera mengerahkan sekitar 25 personel yang dibagi ke dalam tiga regu untuk melakukan pencarian. Seorang warga setempat mengaku sempat mendengar suara dentuman dari kejauhan sebelum kawasan tersebut dipenuhi petugas gabungan.
