Stephanus Widjanarko, atau yang akrab disapa Tephie, adalah salah satu talenta Indonesia yang berhasil menembus panggung dunia motorsport paling bergengsi: Formula 1 (F1). Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2004 ini kini menjabat sebagai Lead Engineer Aero Development di Cadillac Formula 1 Team, tim pendatang baru yang bersiap debut penuh pada musim 2026.
Kisah perjalanannya dari kampus di Bandung hingga garasi F1 di Eropa menjadi inspirasi bagi banyak insinyur muda Indonesia. Berikut profil lengkap Stephanus berdasarkan perjalanan karir dan prestasinya.
Latar Belakang Pendidikan: Dari ITB ke Belanda
Stephanus Widjanarko lahir dan besar di Indonesia dengan minat awal pada teknik mesin yang dipengaruhi oleh ayahnya. Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Teknik Mesin ITB pada 2004 dengan IPK mencapai 3.95 dari 4.0.
Selama kuliah, Stephanus sudah menunjukkan ketertarikan pada aerodinamika, meskipun jurusan itu dianggap “kurang populer” saat itu. Ia sering menghabiskan waktu di workshop motor saat SMA, memperbaiki sepeda motor, yang membentuk keterampilan hands-on-nya.
Setelah lulus, Stephanus melanjutkan studi S2 di University of Twente, Belanda, berkat beasiswa dari profesor ITB. Ia mengambil program Engineering Fluid Dynamics/Sustainable Energy Technology dan lulus pada 2011 dengan IPK 8.05 dari 10.0, meraih predikat honors. Minatnya pada aerodinamika semakin kuat setelah menonton dokumenter National Geographic tentang rekayasa pesawat terbang.
Selama S2, ia magang sebagai Aerodynamics Development Engineer di Vestas Wind Systems, Denmark, selama empat bulan, di mana ia berdiskusi tentang F1 dengan mantan desainer mesin Toyota F1.
Perjalanan Karir: Dari Magang hingga F1
Karir Stephanus dimulai dengan magang singkat sebagai Drilling Engineer di Chevron, Balikpapan, selama tiga bulan setelah lulus ITB. Pasca-S2, ia bekerja satu tahun sebagai Applied CFD Engineer di Dutch National Aerospace Laboratory (NLR), Belanda, fokus pada aerodinamika. Krisis finansial global 2008 membuatnya kesulitan mencari pekerjaan di sektor energi terbarukan, sehingga ia beralih ke F1.
Pada April 2013, Stephanus bergabung dengan Scuderia Toro Rosso (kini AlphaTauri), tim junior Red Bull Racing, sebagai CFD Aerodynamicist. Di sini, ia bertanggung jawab atas pengembangan aero eksternal, seperti front wing, nose, barge boards, dan layout suspensi.
Ia terlibat dalam pengembangan mobil TR8 dan TR9, dengan proses desain yang cepat: dari ide hingga pengujian terowongan angin hanya 2-3 minggu. Selama sembilan tahun di tim ini, kontribusinya membantu kemenangan Pierre Gasly di Grand Prix Monza 2020.
Setelah itu, ia bergabung dengan Andretti Global sebelum akhirnya pindah ke Cadillac F1 Team. Stephanus juga muncul sekilas di serial Netflix “Formula 1: Drive to Survive” saat bekerja di trek. Ia memiliki lebih dari 12 tahun pengalaman di F1, dengan sertifikasi seperti Financial Markets, Deep Learning, dan Machine Learning dari Coursera.
Peran Saat Ini: Lead Engineer Aero Development di Cadillac F1 Team
Kini, Stephanus menjabat sebagai Lead Engineer Aero Development di Cadillac Formula 1 Team, tim baru yang didukung General Motors (GM) dan akan debut penuh pada 2026. Sebagai salah satu anggota teknis pendiri, namanya bahkan tercantum di livery mobil saat pengujian awal di Barcelona.
Perannya melibatkan desain aerodinamika, simulasi CFD, dan pengujian, di mana setiap perhitungan bisa menentukan kemenangan karena selisih waktu hanya milidetik.
Di pabrik, ia fokus pada desain mobil dan kolaborasi tim; di trek, ia menghadapi hari-hari panjang hingga 18 jam selama tes pramusim. Stephanus mengakui bahwa bekerja di F1 adalah mimpi masa kecilnya, terinspirasi saat menonton balapan di Kuala Lumpur bersama ayahnya pada 2004.
Stephanus Widjanarko adalah bukti bahwa dengan pendidikan solid dari ITB dan ketekunan, orang Indonesia bisa bersaing di level global seperti F1. Kisahnya menginspirasi banyak netizen, dengan komentar seperti “Bangga ada orang Indonesia di balik paddock F1.” Saat Cadillac F1 debut di 2026, peran Stephanus akan semakin krusial dalam membawa tim ini bersaing di jet darat paling cepat di dunia.