LONDON, INGGRIS – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta maaf setelah melontarkan pernyataan yang dinilai meremehkan kontribusi sekutu NATO dalam Perang Afghanistan.
Polemik mencuat usai Trump, dalam wawancara dengan Fox News di sela World Economic Forum di Davos, Swiss, Kamis (23/1/2026), mengklaim Amerika Serikat “tidak pernah membutuhkan” bantuan sekutu dan menyebut pasukan NATO Eropa cenderung “sedikit mundur, sedikit menjauh dari garis depan”.
Pernyataan itu langsung menuai kecaman dari London. Pada Jumat (24/1/2026), Starmer menilai ucapan Trump sebagai penghinaan serius terhadap prajurit sekutu dan keluarga mereka.
“Saya menganggap pernyataan Presiden Trump menghina dan, terus terang, mengerikan. Saya tidak terkejut pernyataan itu telah menyebabkan begitu banyak kesedihan bagi orang-orang terkasih dari mereka yang tewas atau terluka,” ujar Starmer kepada wartawan.
Saat ditanya apakah Trump seharusnya meminta maaf, Starmer menjawab lugas, “Jika saya salah bicara atau mengucapkan kata-kata itu, saya pasti akan meminta maaf.”
Inggris tercatat sebagai penyumbang pasukan terbesar kedua di antara negara Barat selama hampir dua dekade perang di Afghanistan. Pada puncaknya tahun 2011, sekitar 11.000 personel militer Inggris ditempatkan di negara tersebut, menurut data BBC.
Perang itu menewaskan 2.456 tentara Amerika Serikat dan 457 tentara Inggris—angka yang menjadi bukti nyata besarnya pengorbanan sekutu.
Pangeran Harry, yang dua kali bertugas di Afghanistan sebagai pilot helikopter Angkatan Darat Inggris, turut bersuara. Ia menegaskan pentingnya menghormati pengorbanan para prajurit.
Pengorbanan tentara Inggris “pantas dibicarakan dengan jujur dan penuh hormat,” kata Pangeran Harry.
Kontroversi ini memperuncing ketegangan hubungan transatlantik di tengah meningkatnya kekhawatiran sekutu Eropa terhadap sikap Trump terhadap NATO. Sebelumnya, Trump juga memicu kemarahan setelah menyebut Denmark “tidak tahu berterima kasih” atas bantuan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II, sembari kembali melontarkan ancaman terkait Greenland.
Sejumlah negara anggota NATO telah mengingatkan bahwa ancaman terhadap sesama anggota akan menjadi pukulan telak bagi soliditas aliansi. Di Inggris, pernyataan Trump memicu gelombang kritik dari kalangan veteran dan pejabat yang menilai klaim tersebut keliru dan merendahkan peran nyata sekutu dalam mendukung Amerika Serikat setelah serangan 11 September 2001, saat Pasal 5 NATO diaktifkan untuk pertama kalinya dalam sejarah.
