JAKARTA – Musisi legendaris Sting digugat oleh dua mantan rekan satu bandnya di The Police, Andy Summers dan Stewart Copeland, terkait sengketa royalti lagu-lagu yang mereka rekam bersama antara 1977 dan 1984.
Gugatan perdata tersebut diajukan di Pengadilan Tinggi Inggris, di mana Summers (gitaris) dan Copeland (drummer) mengklaim bahwa mereka telah dibayar terlalu rendah atas kontribusi mereka dalam sejumlah lagu hits seperti Roxanne dan Every Breath You Take.
Meskipun keduanya tidak tercantum sebagai penulis lagu, mereka menyatakan bahwa band telah mencapai “perjanjian lisan” sejak 1977 untuk berbagi pendapatan, yang kemudian dituangkan dalam kontrak tertulis beberapa tahun setelahnya.
Sting, yang dikenal sebagai penulis utama lagu-lagu The Police, membantah tuduhan tersebut. Dalam dokumen pengadilan, tim kuasa hukumnya menyebut klaim Summers dan Copeland sebagai “tidak sah.”
Sejarah Kelam di Balik Lagu-Lagu Legendaris
The Police dibentuk pada 1977 dan meraih kesuksesan besar secara internasional. Lagu Every Breath You Take dari album Synchronicity (1983) menjadi salah satu lagu paling sering diputar di radio sepanjang masa dan pernah diadaptasi oleh P. Diddy dan Faith Evans dalam lagu I’ll Be Missing You (1997).
Namun, di balik kejayaan itu, ketegangan internal menjadi penyebab utama bubarnya band pada 1984. Dalam wawancara sebelumnya, Copeland pernah menggambarkan sesi rekaman terakhir mereka sebagai “sangat gelap.”
“Band itu saling mengalahkan habis-habisan,” ujarnya kepada The Guardian.
Sting pun sempat menyatakan pada tahun 2022 bahwa dirinya merasa dibatasi oleh dinamika dalam band.
“Frustrasi saya adalah saya bisa menulis materi yang cukup untuk satu album tetapi juga harus menghibur lagu-lagu lain yang tidak sebagus itu,” katanya kepada Mojo Magazine.
“Menjelaskan kepada seseorang mengapa lagu mereka tidak berhasil itu seperti mengatakan pacar mereka jelek. Itu hal yang sangat pribadi… Rasa sakit itu adalah sesuatu yang tidak ingin saya alami lagi,” lanjutnya.
Perselisihan Royalti: Lisan atau Tertulis?
Sengketa hukum yang kini mencuat berfokus pada jenis royalti yang harus dibagikan kepada Summers dan Copeland. Keduanya mengklaim bahwa kesepakatan pada 1977 menyatakan bahwa penulis lagu akan membagikan 15% pendapatan kepada dua anggota lainnya sebagai “biaya arranger.”
Namun, Sting menegaskan bahwa tidak pernah ada kesepakatan lisan semacam itu. Ia menyebut gagasan tersebut muncul dari diskusi santai di apartemennya di Bayswater oleh manajer mereka, Miles Copeland, tanpa kehadiran anggota lain.
Perjanjian pembagian royalti ini sempat disahkan secara tertulis pada 1981 dan mengalami revisi pada 1995 serta 2016. Namun kini, sengketa berpusat pada klasifikasi royalti—yakni royalti pertunjukan (public performance) dan royalti mekanis (mechanical royalties).
Summers dan Copeland berpendapat bahwa mereka berhak atas keduanya, sementara Sting bersikeras bahwa perjanjian mereka hanya mencakup royalti mekanis.
Kesepakatan Lama Disoal Kembali
Pihak Summers dan Copeland juga menggugat validitas perjanjian 2016 yang menyebut bahwa ketiga anggota tidak dapat mengajukan klaim royalti di masa lalu maupun masa depan. Mereka menilai perjanjian itu tidak menghalangi gugatan terhadap isi kesepakatan itu sendiri.
Dalam gugatan ini, Summers dan Copeland menuntut ganti rugi sebesar £1,5 juta. Namun, pihak Sting menolak klaim tersebut dan bahkan menyebut kemungkinan bahwa kedua rekan bandnya justru berutang uang yang pernah dibayarkan lebih dari seharusnya.
Pada 2022, Sting diketahui menjual hak atas seluruh katalog penulisan lagunya—termasuk karya solonya dan lagu-lagu The Police—kepada Universal Music Group dengan nilai yang dilaporkan mencapai £149 juta.