JAKARTA – Strategi Bank Indonesia (BI) stabilkan rupiah menjadi sorotan di tengah konflik Timur Tengah yang kian memanas dan memicu gejolak pasar keuangan global.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong pelaku pasar global mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Bank Indonesia memastikan tetap aktif di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas yang berlebihan serta menjaga nilai tukar agar bergerak sesuai fundamental ekonomi domestik.
“Sejalan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah, BI akan akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama.”
“BI akan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan tertulisnya, Senin, 2 Maret 2026.
Menurut Erwin, eskalasi konflik memicu sentimen penghindaran risiko atau risk off yang membuat investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang.
“BI akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Maupun melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik,” ucap Erwin.
Langkah intervensi tersebut dipadukan dengan optimalisasi instrumen moneter guna memastikan kebijakan suku bunga tersalurkan efektif ke sektor riil tanpa mengorbankan stabilitas sistem keuangan.
Rupiah Tertekan, Harga Minyak Dunia Melonjak
Tekanan eksternal tercermin pada pelemahan rupiah yang ditutup di level Rp16.868 per dolar AS atau turun 0,48 persen setara 81 poin pada perdagangan awal pekan.
Pasar juga mencermati potensi lonjakan harga energi akibat risiko terganggunya distribusi minyak global, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terdampak eskalasi konflik.
Penutupan jalur tersebut berpotensi menghambat logistik energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menyentuh kisaran USD100 per barel menurut sejumlah analis.
Harga minyak mentah global mulai bergerak naik dengan Brent mencapai USD78 per barel atau melonjak 7,6 persen, sementara West Texas Intermediate berada di level USD72 per barel atau naik 7,4 persen.
Kenaikan harga energi dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi domestik dan memperberat beban impor sehingga berdampak pada nilai tukar rupiah jika tidak diantisipasi secara terukur.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memonitor dinamika global dan domestik secara real time guna memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Hingga berita ini diturunkan, Selasa (3/3/2026) pukul 09.45 WIB, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.859, naik tipis sembilan poin (0,05 persen).***