JAKARTA – Beberapa pengguna media sosial X ramai mengeluhkan suhu yang terasa dingin di sejumlah wilayah Indonesia selama beberapa hari terakhir.
Melalui akun @Spad***, seorang warganet mengungkapkan pada Rabu (27/8/2025) bahwa suhu di Jakarta Selatan terasa sangat dingin. Sementara itu, akun @flu*** membagikan tangkapan layar dari aplikasi cuaca di ponselnya yang menunjukkan suhu di Lembang, Jawa Barat, mencapai 18 derajat Celsius.
Pengguna lain juga merasakan kondisi serupa, dengan suhu yang tercatat lebih rendah dari biasanya, berkisar di bawah 20 derajat Celsius. “Bandung terasa dingin sekali, suhu mencapai 16° saat ini,” tulis akun @cry***, Rabu (27/8/2025). Warganet lain menambahkan, “suhu udara malam ini di Surabaya berapa? Kok aku ngerasa kedinginan,” serta “dingin bgt Palembang, sial,” dan “bali lagi dingin bgt ya udaranya walaw ga ujann.”
Apa yang menyebabkan suhu dingin ini melanda Indonesia di akhir Agustus 2025?
Menurut Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Andri Ramdhani, penurunan suhu minimum yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukan fenomena luar biasa, melainkan akibat faktor musiman.
“Selama musim kemarau, kondisi atmosfer cenderung lebih cerah dan kering sehingga radiasi gelombang panjang dari permukaan Bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer pada malam hari,” jelas Andri dilansir dari Kompas, Rabu (27/8/2025). Kondisi ini menyebabkan pendinginan permukaan yang lebih intens sehingga suhu dini hari menjadi relatif rendah.
“Andri menambahkan, “Dengan demikian, kondisi dingin pada akhir Agustus 2025 serupa dengan yang terjadi di awal Agustus lalu yang masih terkait dengan karakteristik puncak musim kemarau.”
Data BMKG menunjukkan suhu minimum yang cukup dingin tercatat di sejumlah wilayah. Di Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega, Nusa Tenggara Timur (NTT), suhu mencapai 11,4 derajat Celsius pada Rabu (27/8/2025). Enarotali, Papua, mencatat suhu 14,8 derajat Celsius, dan Silangit, Sumatera Utara, sebesar 15,0 derajat Celsius.
“Nilai-nilai ini menunjukkan udara yang cukup sejuk–dingin, khususnya untuk kawasan dataran tinggi,” terang Andri.
Meski suhu rendah ini menandakan malam yang lebih dingin, BMKG mengingatkan bahwa tanda berakhirnya musim kemarau tidak bisa dilihat hanya dari suhu minimum, melainkan dari pola hujan yang meningkat secara konsisten.
“Saat ini, data suhu rendah lebih tepat dikaitkan dengan proses pendinginan malam khas musim kemarau, bukan sinyal langsung peralihan musim,” pungkas Andri.