JAKARTA – Kementerian Dalam Negeri Suriah pada Selasa (20/1/2026) mengumumkan penangkapan kembali 81 dari 120 tahanan ISIS yang sempat melarikan diri dari penjara al-Shaddadi, Hasakah timur laut. Pemerintah menuding Pasukan Demokrtatik Suriah (SDF) yang dipimpin YPG berada di balik insiden tersebut.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip dari Hurriyet Daily News, kementerian menyebut Angkatan Darat Suriah bersama unit khusus segera bergerak ke al-Shaddadi. “Pasukan militer dan kementerian melancarkan pencarian dan penyisiran besar-besaran di dalam dan sekitar al-Shaddadi,” bunyi pernyataan itu. Hingga kini, perburuan terhadap sisa tahanan masih berlangsung.
Pada pagi hari, bentrokan pecah antara pasukan pemerintah dan pejuang SDF di dekat dua penjara yang dikuasai ISIS. SDF melaporkan sejumlah anggotanya tewas dan lebih dari selusin lainnya terluka. Ketegangan terjadi di tengah kunjungan komandan SDF Mazloum Abdi ke Damaskus untuk membicarakan gencatan senjata yang diumumkan Minggu lalu.
SDF diketahui mengawasi lebih dari selusin penjara di timur laut yang menahan sekitar 9.000 tersangka ISIS, banyak di antaranya belum diadili sejak keterlibatan mereka dalam kekejaman 2014 di Suriah dan Irak. Associated Press melaporkan konvoi Amerika Serikat terlihat memasuki zona penjara, diduga untuk menengahi kedua pihak.
Kantor Al-Sharaa juga mengungkap percakapan telepon Presiden AS Donald Trump dengan Damaskus, menekankan pentingnya persatuan teritorial Suriah, perlindungan hak-hak Kurdi, serta kerja sama melawan ISIS.
Damaskus memperingatkan SDF agar tidak menggunakan terorisme sebagai “pemerasan politik.” “Pemerintah memperingatkan pimpinan SDF agar tidak membantu pelarian Daesh sebagai bentuk pembalasan atau tekanan,” tegas media pemerintah.
Sementara itu, Turki membantah tuduhan bahwa pihaknya terlibat dalam pembebasan tahanan ISIS. “Klaim tersebut sama sekali tidak berdasar,” ujar Pusat Pemberantasan Disinformasi Turki, menegaskan bahwa Ankara justru memimpin perlawanan paling sengit terhadap ISIS di kawasan.
Gencatan senjata yang berlaku juga mengatur integrasi personel SDF ke dalam kementerian pertahanan dan dalam negeri Suriah, serta penyerahan perbatasan, ladang minyak/gas, dan badan sipil kepada otoritas Damaskus. Langkah ini menyusul kemajuan militer Suriah yang merebut kembali wilayah timur dan timur laut setelah menuding SDF melanggar kesepakatan sebelumnya.
