JAKARTA, 21 Agustus 2025 — Menyongsong 80 tahun kemerdekaan, Indonesian Social Survey (ISS) merilis hasil riset nasional yang memperlihatkan kondisi masyarakat Indonesia di tengah dinamika global.
Laporan ini menegaskan bahwa kepercayaan rakyat terhadap Presiden mencapai level tertinggi sejak era reformasi, meski tantangan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa.
Survei yang dilakukan ISS pada Juli 2025 itu merekam sentimen optimisme publik. Mayoritas warga merasa bahagia, sehat, aman, dan percaya pada institusi negara, namun di sisi lain, indikator ekonomi rumah tangga menunjukkan skor terendah.
Realitas ini menandakan bahwa pembangunan non-ekonomi—seperti keamanan, politik, hingga layanan dasar—lebih berpengaruh terhadap kepuasan masyarakat dibandingkan pendapatan.
“Secara umum, masyarakat merasa cukup bahagia, sehat, aman, dan memiliki kepercayaan tinggi terhadap sesama dan lembaga negara.”
“Namun, aspek ekonomi rumah tangga masih menjadi tantangan terbesar,” ujar Direktur Eksekutif ISS, Whinda Yustisia, dalam diskusi publik bertajuk “80 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Bagaimana Kualitas Hidup Manusia Indonesia Saat Ini?” yang digelar di Jakarta, Kamis (21/8).
Potret Kualitas Hidup Rakyat 2025
ISS mencatat indeks kualitas hidup nasional berada di angka 65 dari 100 atau kategori “cukup baik”. Penilaian dilakukan dengan mengukur tujuh aspek utama:
- Kesejahteraan psikologis: 67,3
- Kesehatan: 70,1
- Keamanan: 72,3
- Kepercayaan sosial dan institusi: 70,2
- Partisipasi politik: 69,7
- Kesejahteraan ekonomi: 42,6
- Kualitas lingkungan: 62,9
Meski kesejahteraan ekonomi menjadi catatan serius, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah tetap tinggi, mencapai 78 persen.
Dari 39 indikator, hanya delapan yang benar-benar berpengaruh, di antaranya kepuasan hidup, fasilitas pendidikan, rasa aman, serta kepercayaan terhadap Presiden, Wakil Presiden, TNI, hingga jalannya demokrasi.
“Kepercayaan terhadap Presiden bahkan mencapai angka tertinggi sejak era reformasi, yaitu 90,9 persen,” ungkap Whinda.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Jadi Sorotan
Salah satu kebijakan yang paling menonjol dalam survei adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Riset ISS menemukan bahwa program ini diingat spontan oleh 67 persen responden, dikenal luas oleh 89 persen, dan dianggap bermanfaat oleh 82 persen masyarakat.
Namun, sebagian publik menilai manfaat MBG belum sepenuhnya mengurangi beban ekonomi rumah tangga.
Juru Bicara Kantor Komunikasi Presiden, Fitra Faisal, menegaskan bahwa program ini berfokus pada efisiensi pengeluaran keluarga, bukan sekadar menambah pendapatan.
“Meski tidak menambah pendapatan langsung seperti bantuan tunai, MBG membantu mengurangi beban belanja harian. Misalnya, dua anak sekolah bisa menghemat pengeluaran hingga Rp600.000 per bulan,” jelas Fitra.
Dampak Nyata Program Pemerintah
Hingga Agustus 2025, MBG telah menjangkau 12–20 juta penerima manfaat dan membuka lapangan kerja bagi sekitar 290 ribu tenaga.
Pemerintah juga menyalurkan anggaran Rp757,8 triliun untuk sektor pendidikan, mencakup renovasi 800 madrasah, 11.686 sekolah, serta peningkatan kualitas guru.
Menurut Fitra, pembangunan manusia merupakan fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.
“Pertumbuhan industri akan sia-sia jika masyarakat tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan. Maka dari itu, pembangunan harus menyiapkan manusia Indonesia agar siap menghadapi era society 5.0,” tegasnya.***