Legenda hidup bulutangkis Indonesia, Susy Susanti, ikut angkat bicara mengenai kasus memilukan yang mengguncang dunia olahraga tanah air. Peraih emas Olimpiade Barcelona ini memberikan dukungan penuh atas penanganan dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang menimpa sejumlah atlet panjat tebing nasional.
Melalui unggahan di media sosial, Susy menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen Menpora Erick Thohir yang menunjukkan keberpihakan nyata pada perlindungan atlet.
“Respons cepat dan keseriusan pemerintah sangat penting. Ini bukan hanya soal keadilan bagi korban, tapi juga memastikan agar noda hitam seperti ini tidak kembali terulang di masa depan,” tegas Susy, Minggu (8/3/2026).
Menjaga “Rumah” Para Pejuang Bangsa
Bagi Susy, pelatnas maupun ajang internasional seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi para atlet untuk berkembang. Ia menyayangkan jika sosok yang seharusnya membimbing justru menjadi pelaku yang merusak mental dan fisik atlet.
“Sangat menyedihkan jika ada sosok di sekitar atlet yang mencederai kepercayaan besar ini. Kita semua yang terlibat dalam dunia olahraga harus menjaga integritas dan memiliki semangat yang sama untuk melindungi atlet,” tambahnya.
Langkah Hukum dan Penonaktifan Pelatih
Kasus yang menyeret nama pelatih Hendra Basir ini telah memasuki babak baru. Setelah resmi dinonaktifkan dari Timnas Panjat Tebing Indonesia oleh FPTI, pihak korban melalui kuasa hukumnya juga telah melaporkan kasus ini ke Mabes Polri pada Selasa (3/3) lalu.
Menpora Erick Thohir pun menyambut positif dukungan dari sang legenda. Ia menegaskan bahwa kementeriannya tidak akan memberikan ruang bagi praktik kekerasan di dalam ekosistem olahraga.
“Terima kasih atas kepedulian Ibu Susy Susanti. Mari kita bersama-sama mengawal ekosistem olahraga agar saling menjaga dan memberikan perhatian khusus kepada keamanan para atlet kita,” tutur Erick.
Sebagai langkah konkret, Kemenpora kini telah membuka layanan pengaduan bagi seluruh insan olahraga yang menjadi korban pelecehan atau kekerasan. Hal ini diharapkan dapat memutus rantai “diam” yang selama ini sering terjadi di dunia olahraga saat menghadapi kasus serupa.