Perang bukan hanya soal adu kekuatan militer, tapi juga pertarungan ketahanan finansial. Di tengah gencatan senjata yang masih sangat rapuh, Kementerian Keuangan Israel merilis angka yang mengejutkan: $17,5 miliar (sekitar Rp275 triliun) ludes hanya dalam 40 hari pertempuran melawan Iran dan Lebanon.
Perang 40 hari yang melibatkan Israel, Iran, dan Lebanon telah meninggalkan lubang besar dalam kas negara Tel Aviv. Berdasarkan laporan Channel 12 dan Anadolu Agency, biaya yang harus dikeluarkan mencapai 54 miliar shekel atau setara $17,5 miliar. Angka ini menegaskan tekanan fiskal yang luar biasa bagi negara yang baru saja mengesahkan anggaran terbesar dalam sejarahnya.
Rincian “Tagihan” Perang: $3 Miliar per Minggu
Pengeluaran ini tidak hanya habis di medan tempur, tetapi juga menjalar ke sektor sipil:
-
Mesin Perang: Sekitar $12,9 miliar (40 miliar shekel) habis untuk operasi udara intensif, konsumsi amunisi yang sangat tinggi, dan logistik militer.
-
Dampak Sipil: Dana sebesar $4,5 miliar dialokasikan untuk kompensasi bisnis yang lumpuh, klaim kerusakan properti, hingga dukungan upah bagi pekerja yang dirumahkan.
Setiap harinya, Israel diperkirakan “membakar” uang hingga 1,7 miliar shekel demi menjaga mesin perangnya tetap menyala.
Proyeksi Pertumbuhan yang Terjun Bebas
Dampak ekonomi ini melampaui suara ledakan di perbatasan. Bank of Israel terpaksa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dari 5,2% menjadi hanya 3,8%. Parlemen Israel (Knesset) bahkan harus menyuntikkan dana darurat hingga total anggaran negara membengkak menjadi $271 miliar—sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut.
Di skala regional, situasi lebih mengerikan. PBB memperkirakan PDB gabungan negara-negara Arab menyusut hingga $194 miliar, memicu risiko kemiskinan massal bagi jutaan orang.
Data ekonomi yang menyesakkan ini muncul tepat saat gencatan senjata dua minggu hasil mediasi Pakistan mulai berlaku. Namun, situasi di lapangan masih menyerupai “bom waktu”.
Sabtu ini, Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan terbang ke Islamabad untuk bertemu delegasi Iran dalam misi diplomasi tingkat tinggi. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyebut ini sebagai momen “penentu nasib”. Jika perundingan gagal dan serangan di Lebanon terus berlanjut, gencatan senjata ini diprediksi akan runtuh, membawa beban ekonomi yang jauh lebih destruktif bagi kedua belah pihak.