BALI – Rencana pengoperasian taksi air di Bali semakin konkret dengan estimasi investasi awal mencapai Rp1,21 triliun.
Moda transportasi laut ini akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu dan diproyeksikan memangkas waktu tempuh perjalanan menjadi sekitar 30 menit.
Program ini digagas oleh Kementerian Perhubungan sebagai solusi atas kepadatan lalu lintas yang semakin meningkat di Bali, khususnya pada jalur menuju destinasi wisata populer.
Selain mempercepat waktu tempuh, taksi air juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi mobilitas wisatawan maupun masyarakat lokal.
Investasi sebesar Rp1,21 triliun tersebut akan dialokasikan untuk berbagai kebutuhan utama proyek, mulai dari pembangunan pelabuhan, pengadaan kapal, hingga infrastruktur pendukung seperti fasilitas darat, sistem mekanikal dan elektrikal, serta perlengkapan operasional lainnya.
Selain itu, pembangunan juga mencakup fasilitas keselamatan seperti breakwater atau penahan gelombang di titik pelabuhan guna menjamin keamanan operasional di laut.
Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap studi kelayakan dan perencanaan teknis.
Pemerintah tengah menyusun detail engineering design (DED) sebelum memulai pembangunan infrastruktur pendukung seperti dermaga dan fasilitas operasional.
Targetnya, konstruksi dapat dimulai pada Agustus 2026 dan ditargetkan rampung pada pertengahan 2027.
Kehadiran taksi air menjadi bagian dari upaya integrasi sistem transportasi di Bali.
Nantinya, moda ini akan terhubung dengan transportasi darat dan udara, sehingga menciptakan jaringan mobilitas yang lebih terkoordinasi dan efisien.
Integrasi ini dinilai penting mengingat Bali merupakan destinasi wisata internasional dengan tingkat pergerakan yang sangat tinggi.
Selain fungsi utamanya sebagai alat transportasi, taksi air juga menawarkan nilai tambah dari sisi pengalaman perjalanan.
Wisatawan dapat menikmati pemandangan laut Bali selama perjalanan, menjadikannya alternatif yang tidak hanya cepat tetapi juga menarik secara visual.
Hal ini berpotensi meningkatkan daya tarik pariwisata sekaligus memperkaya pilihan transportasi di Pulau Dewata.
Dari sisi ekonomi, proyek ini diperkirakan membawa dampak positif bagi kawasan sekitar, khususnya Canggu yang dikenal sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan domestik dan mancanegara.
Akses yang lebih cepat diyakini akan mendorong peningkatan kunjungan, yang pada akhirnya berdampak pada sektor usaha seperti perhotelan, kuliner, dan ekonomi kreatif.
Meski demikian, implementasi taksi air tidak lepas dari berbagai tantangan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebutuhan investasi yang cukup besar, dengan estimasi awal mencapai triliunan rupiah.
Selain itu, kesiapan infrastruktur, regulasi pelayaran, serta aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan juga harus dipastikan sebelum layanan ini resmi beroperasi.
Pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses akan dilakukan secara matang dan bertahap untuk menjamin keberhasilan proyek.
Pengembangan pelabuhan dan dermaga di titik-titik strategis juga menjadi fokus agar operasional taksi air dapat berjalan optimal dan aman bagi pengguna.