BEKASI – Tanggul Sungai Citarum di wilayah pesisir Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, kembali jebol pada Sabtu, 31 Januari 2026. Insiden ini menyebabkan luapan air sungai menggenangi permukiman warga di Desa Pantai Bahagia dan Desa Pantai Bakti, sehingga ribuan jiwa terdampak banjir rob dan luapan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi menerima laporan pertama terkait kejadian tersebut pada pukul 09.30 WIB. “Kami baru dapat laporan (tanggul jebol) pukul 09.30 WIB,” ucap Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi.
Menurut Dodi, penyebab utama jebolnya tanggul adalah kombinasi curah hujan ekstrem di wilayah hulu dan debit air Sungai Citarum yang terus meningkat tanpa tanda-tanda surut. Kondisi ini membuat beberapa titik tanggul menjadi kritis dan akhirnya jebol.
“Betul, curah hujan yang tinggi dan debit air Sungai Citarum tak kunjung surut mengakibatkan tanggul jebol dan tanggul kritis di beberapa titik di wilayah Desa Pantai Bahagia dan Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong,” jelasnya.
Lokasi tanggul yang jebol kali ini berbeda dari kejadian sebelumnya pada Selasa dini hari, 20 Januari 2026. Hal tersebut mengindikasikan Sungai Citarum masih memiliki sejumlah titik rawan di sepanjang alirannya, terutama di kawasan Muara Gembong yang rentan terhadap banjir rob dan luapan saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
Tim BPBD Kabupaten Bekasi langsung berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum untuk melakukan penanganan darurat. Upaya sementara digencarkan, meski perbaikan permanen belum memungkinkan karena kondisi debit air yang masih tinggi.
“Kami sudah koordinasi dengan BBWS Citarum dan saat ini sedang dalam penanganan,” ujar Dodi.
Ia menambahkan, “Dari BBWS Citarum belum bisa membuat tanggul permanen karena debit air Citarum masih tinggi. Yang dikerjakan penanganan sementara dengan memasang geobag dan lain-lain.”
Hingga berita ini disusun, banjir masih menggenangi permukiman di kedua desa dengan ketinggian air bervariasi. Di Desa Pantai Bahagia, muka air tercatat sekitar 10 hingga 20 cm, sementara di Desa Pantai Bakti mencapai 10 hingga 40 cm. Genangan ini memengaruhi aktivitas warga, termasuk akses jalan dan lahan pertanian.
Pihak berwenang mengimbau warga di wilayah rawan untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air lebih lanjut, mengingat prakiraan cuaca menunjukkan hujan masih berpotensi terjadi di Jawa Barat. BPBD dan BBWS terus memantau situasi untuk mencegah dampak yang lebih parah.