JAKARTA – Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana banjir bandang di Provinsi Aceh mencapai tonggak penting. Target perbaikan jalan nasional yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berhasil direalisasikan tepat waktu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 13 ruas jalan nasional telah kembali berfungsi, meski sebagian masih menggunakan jalur sementara. Pulihnya akses darat utama ini memperlancar mobilitas masyarakat serta mempercepat pemulihan sektor lain, seperti energi dan komunikasi, di wilayah terdampak.
Capaian tersebut diraih setelah banjir bandang melanda Aceh pada akhir 2025 yang mengakibatkan kerusakan parah pada jalan, jembatan, dan infrastruktur pendukung. BNPB selaku koordinator Pos Pendamping Nasional memastikan target penyelesaian perbaikan pada 30 Desember 2025 telah terpenuhi. Pemantauan hingga 1 Januari 2026 menunjukkan progres signifikan.
“Target pemulihan akses jalan nasional tercapai,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam rilis resmi yang diterima Kamis (1/1).
Jalur-jalur vital seperti Banda Aceh–Medan melalui lintas timur dan lintas barat, serta rute Nagan Raya–Takengon, kini telah terhubung sepenuhnya. Akses Lhokseumawe–Takengon melalui jalur KKA juga sudah operasional. Sementara itu, rute Bireuen–Bener Meriah tetap dapat dilalui meski beberapa jembatan masih dalam tahap penyempurnaan. Konektivitas Pidie–Takengon pun telah pulih, memastikan distribusi bantuan dan mobilitas warga berjalan normal.
“Dengan pulihnya jalur atau akses darat utama, baik lintas timur, lintas tengah, maupun lintas barat, serta jalur penghubung antarlintas, pemulihan sektor energi, kelistrikan, dan komunikasi di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah dapat dipercepat,” tambah Abdul Muhari.
Di sektor jembatan, seluruh 16 unit yang rusak akibat banjir telah selesai ditangani. Sebanyak 12 jembatan kembali beroperasi di lokasi semula, sedangkan empat lainnya difungsikan melalui rute pengganti, yakni Weihni Enang-Enang, Jamur Ujung, Titi Merah, dan Krueng Beutong.
“Jembatan yang sebelumnya dilaporkan rusak sebanyak 16 unit telah 100 persen diselesaikan,” jelas Abdul Muhari, seraya menegaskan bahwa aspek keamanan dan efisiensi menjadi prioritas utama.
Penanganan longsor juga menunjukkan hasil hampir maksimal. Dari total 361 titik longsor, sebanyak 360 titik atau 99,72 persen telah selesai dikerjakan hingga 1 Januari 2026. Satu titik tersisa berada di sekitar Jembatan Weihni Enang-Enang dan masih dalam proses penanganan, dengan arus lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif.
“Penanganan longsoran mencapai 99,72 persen, berkat dukungan alat berat dan kerja tim di lapangan yang menghadapi medan pegunungan cukup berat,” ujar Abdul Muhari.
Keberhasilan pemulihan ini tidak terlepas dari sinergi antarlembaga dan dukungan masyarakat setempat. Pemerintah optimistis pemulihan sektor energi dapat rampung pada pertengahan Januari 2026, sehingga aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial warga, khususnya di Bener Meriah dan Aceh Tengah, dapat kembali normal.
Meski demikian, BNPB tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem. Risiko hujan deras masih berpeluang memicu luapan sungai, mengingat sistem drainase dan saluran air utama belum sepenuhnya normal.
“BNPB tetap mewaspadai potensi yang dapat mengganggu hasil perbaikan yang telah dilakukan bersama,” tegas Abdul Muhari.
Sebagai langkah mitigasi, operasi modifikasi cuaca terus dilakukan untuk mempercepat normalisasi sungai di wilayah rawan. Pemerintah pusat dan daerah juga menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif, termasuk pemantauan prakiraan cuaca dan pemeliharaan infrastruktur yang telah diperbaiki.
Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari BNPB selama masa transisi pemulihan guna meminimalkan risiko dan menjaga keberlanjutan hasil rehabilitasi pascabencana.
