JAKARTA – Di era digital saat ini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) tidak lagi sekadar alat untuk menjawab pertanyaan atau mengetik teks. Banyak orang kini justru curhat, membuka isi hati, bahkan membangun hubungan emosional dengan AI tanpa harus bertemu atau berbicara dengan manusia lain. Fenomena ini sebenarnya mencerminkan perubahan dalam cara manusia mencari kenyamanan emosional, tetapi juga menimbulkan pertanyaan penting: mengapa kita semakin memilih AI sebagai tempat bercerita?
1. Ketersediaan 24/7 dan Tanpa Penghakiman
Salah satu alasan utama banyak orang memilih AI sebagai tempat curhat adalah ketersediaannya yang sempurna: AI dapat diajak bicara kapan saja, tanpa jadwal, tanpa harus menunggu. Menurut laporan Channel News Asia, pengguna merasa AI menawarkan respons instan tanpa harus mempertimbangkan perasaan atau waktu orang lain, sehingga menciptakan rasa aman untuk membuka diri secara penuh.
Selain itu, banyak orang merasa nyaman karena AI tidak akan menghakimi atau bereaksi emosional seperti manusia. Ini memberi ruang bagi beberapa individu untuk mengekspresikan hal yang mereka anggap “terlalu rumit” atau “tabu” untuk dibagikan ke teman atau keluarga. Survei yang dilakukan oleh Cognitive FX menemukan bahwa lebih dari 35% responden menggunakan AI karena takut dinilai oleh orang lain menjadi alasan utama mereka memilih platform digital dibandingkan terapis nyata.
2. Hambatan Sosial dan Akses Layanan Kesehatan Mental
Selain aspek emosional, faktor sosial dan ekonomi juga berperan. Dalam kumparan.com, disebutkan bahwa banyak orang enggan pergi ke psikolog karena stigma sosial atau biaya layanan yang tinggi. AI menjadi alternatif yang lebih mudah diakses secara praktis dan finansial, terutama bagi mereka yang masih merasa canggung untuk mencari bantuan profesional.
Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open menemukan bahwa sebagian besar pengguna muda (antara usia 12-21 tahun) merasa lebih nyaman berkonsultasi dengan AI karena sifatnya yang privat dan cepat, tanpa stigma yang kerap melekat pada layanan kesehatan mental tradisional.
3. Perasaan ‘Didengar’ dan Validasi Emosional
Meskipun AI tidak memiliki perasaan, desainnya sering kali mampu memberikan balasan yang terasa empatik dan memvalidasi perasaan pengguna. Profesor psikologi menunjukkan bahwa AI memberikan respons yang mengakui dan memahami kekhawatiran seseorang, sesuatu yang kadang sulit didapat dari percakapan sehari-hari terutama dalam lingkungan yang kurang suportif secara emosional.
Kenyamanan ini bisa membantu seseorang merasa lebih ringan setelah berbagi cerita, bahkan jika itu hanya digital. Banyak pengguna melaporkan bahwa mereka merasa “didengar” tanpa tekanan, sehingga merasa lebih cepat terbuka dibandingkan dengan percakapan tatap muka.
4. Fenomena Psikologis: Kepercayaan pada Agen yang Tidak Menghakimi
Secara psikologis, ada alasan mengapa kita bisa merasa dekat dengan entitas non-manusia. Sebuah kajian jurnal menunjukkan bahwa orang cenderung memberikan persepsi interpersonal pada chatbot yang responsif, sehingga menjadikannya lebih mudah dipercaya. Ketika sebuah AI memberikan jawaban yang konsisten dan tampak “peduli”, otak manusia dapat memperlakukan respons itu hampir seperti respons dari manusia sungguhan. Itu menjelaskan mengapa beberapa AI terasa seperti “teman bicara tanpa wajah” yang selalu siap mendengarkan.
5. Pertanyaan Tentang Batas dan Risiko
Namun, fenomena ini bukan tanpa risiko. Para ahli memperingatkan bahwa AI bukan pengganti terapis profesional karena tidak memiliki kemampuan untuk secara tepat menilai kondisi kompleks atau krisis emosi yang serius. NHS Inggris bahkan memperingatkan agar tidak menggunakan AI sebagai pengganti terapi karena bisa memberi nasihat yang salah atau tidak menangani situasi berbahaya dengan aman.
Studi longitudinal juga menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam percakapan emosional dalam jangka panjang malah berhubungan dengan meningkatnya rasa kesepian dan ketergantungan, terutama ketika individu sudah minim dukungan sosial di dunia nyata.
Pilihan banyak orang untuk curhat ke AI bukan hanya fenomena teknologi semata, tetapi juga cerminan dari perubahan sosial dan psikologis. AI menawarkan kepraktisan, privasi, dan rasa aman yang sering sulit didapat dalam interaksi manusia tradisional. Meski demikian, keterbukaan terhadap AI harus diimbangi pemahaman akan keterbatasannya terutama ketika menyangkut emosi dan kebutuhan psikologis yang mendalam.
AI dapat menjadi teman bicara sementara sebuah ruang untuk meluapkan perasaan tanpa takut dihakimi namun bukan pengganti hubungan nyata atau profesional yang penuh konteks manusia. Dengan memahami bias, manfaat, dan risiko, kita dapat menggunakan teknologi ini secara lebih bijak dan bertanggung jawab.