JAKARTA – Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, menembus $4.100 per ons (sekitar Rp65,6 juta) pada Selasa (14/10).
Lonjakan ini dipicu harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya permintaan aset aman di tengah memanasnya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China.
Berdasarkan data perdagangan pukul 08.05 GMT, emas spot naik 0,5% ke $4.128,49 (Rp66,05 juta) per ons, setelah sempat menyentuh rekor $4.179,48 (Rp66,87 juta).
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS pengiriman Desember naik 0,3% menjadi $4.144,10 (Rp66,30 juta).
Mengutip laporan Reuters, sepanjang tahun ini, harga emas telah menguat 57%, berhasil menembus batas psikologis $4.100 untuk pertama kalinya.
Kenaikan ini ditopang oleh ketidakpastian geopolitik, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, aksi beli besar oleh bank sentral dunia, serta aliran dana kuat ke reksa dana berbasis emas (ETF).
“Kekhawatiran baru terhadap potensi perang dagang global telah mendorong harga emas menembus level psikologis $4.100,” ujar Han Tan, Kepala Analis Pasar di Nemo.money.
Ia menambahkan, “Kenaikan berikutnya menuju kisaran pertengahan $4.000 kemungkinan membutuhkan kejutan dovish dari pertemuan FOMC bulan ini.”
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pada akhir Oktober, ungkap Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (13/10).
Pertemuan tersebut dipandang sebagai langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Namun di saat yang sama, kedua negara juga akan memberlakukan biaya pelabuhan baru bagi perusahaan pelayaran internasional, termasuk yang mengangkut minyak mentah hingga produk musiman menjelang liburan, sehingga menambah tekanan di jalur perdagangan global.
Menurut analis dari Bank of America dan Societe Generale, harga emas berpotensi menembus $5.000 per ons (sekitar Rp80 juta) pada 2026, mencerminkan tren bullish jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, harga perak juga sempat mencetak rekor baru $53,60 (Rp857.600) per ons sebelum terkoreksi tipis 0,1% menjadi $52,27 (Rp836.000). Kenaikan perak turut didorong oleh faktor serupa seperti emas dan kondisi pasokan yang ketat di pasar fisik.
“Tekanan beli besar-besaran di pasar London menjadi pemicu jelas kenaikan rekor baru perak,” ujar Han Tan, menegaskan bahwa sentimen safe haven masih menjadi pendorong utama pergerakan logam mulia tersebut.
Investor kini menunggu pidato Ketua The Fed Jerome Powell dalam pertemuan tahunan NABE pada Selasa malam waktu AS untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Sebelumnya, Kepala The Fed Philadelphia, Anna Paulson, mengatakan bahwa meningkatnya risiko terhadap pasar tenaga kerja memperkuat alasan bagi The Fed untuk kembali menurunkan suku bunga.
Di sisi lain, indeks Dow Jones dan S&P 500 menutup perdagangan Senin dengan kenaikan masing-masing 1,3% dan 1,5%, menandakan optimisme investor terhadap kemungkinan stimulus tambahan dari bank sentral AS.
Selain emas dan perak, logam mulia lainnya juga menguat, di antaranya platinum naik 0,6% ke $1.654,65 (Rp26,47 juta) dan palladium bertambah 0,2% ke $1.477,95 (Rp23,65 juta).
Analis menilai bahwa emas tetap menjadi aset andalan di era suku bunga rendah, mencerminkan kecemasan pasar terhadap ketidakpastian ekonomi global yang kemungkinan masih berlanjut hingga tahun depan.***