Wilayah Timur Jauh Rusia mulai bangkit dari hujan salju terparah dalam enam dekade setelah sistem badai musim dingin dahsyat menyapu sebagian besar Asia pada Selasa. Dampaknya meluas hingga ke Jepang dan Tiongkok, menyebabkan gangguan transportasi udara serta menghadirkan fenomena salju langka di kawasan yang jarang mengalaminya.
Di Semenanjung Kamchatka, yang berjarak sekitar 6.800 kilometer dari Moskow, salju menumpuk hingga menutupi pintu masuk gedung dan menenggelamkan kendaraan. Menurut laporan Reuters, lebih dari dua meter salju turun hanya dalam paruh pertama Januari, menyusul 3,7 meter salju ekstrem pada Desember.
Pemerintah setempat menetapkan status darurat ketika warga terpaksa menggali lorong sempit untuk keluar-masuk apartemen mereka.
Di ibu kota regional Petropavlovsk-Kamchatsky, pemandangan kota berubah drastis. Gundukan salju menjulang setinggi lampu lalu lintas, bahkan dimanfaatkan sebagian warga untuk melompat dan bermain. “Rasanya seperti bukit pasir,” ujar Polina Tuichieva, warga setempat sekaligus blogger.
Fenomena Jet Stream dan Vorteks Kutub Melemah
Para ilmuwan menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini dipicu oleh ketidakteraturan jet stream dan melemahnya vorteks kutub Arktik. Menurut peneliti cuaca ekstrem dari World Weather Attribution, kondisi tersebut memungkinkan dua gelombang udara dingin turun bersamaan dari Arktik, memengaruhi Rusia Timur dan Asia, sementara gelombang lain bergerak ke Eropa Timur.
“Ketika vorteks kutub melemah, jet stream menjadi tidak stabil, sehingga udara dingin lebih mudah bergerak ke selatan,” jelas Theodore Keeping dari Imperial College London.
Salju Langka Guyur Shanghai, Transportasi Lumpuh
Sistem cuaca yang sama bergerak ke selatan dan membawa salju lebat ke Shanghai, fenomena yang terakhir terjadi pada Januari 2018. Peristiwa ini terasa kontras, mengingat suhu kota tersebut sempat mencapai 20 derajat Celsius hanya sepekan sebelumnya.
“Saya belum pernah melihat salju setebal ini di Shanghai,” ujar Li Meng (23), seorang mahasiswa. Warga lain, Yu Xin (30), mengatakan perubahan suhu yang ekstrem membuat banyak orang merasa tidak nyaman.
Otoritas Tiongkok menutup 241 ruas jalan tol utama di 12 provinsi, termasuk Shanxi, Mongolia Dalam, dan Heilongjiang, akibat jalan licin dan jarak pandang terbatas. Sementara itu, suhu di provinsi Guizhou diperkirakan turun drastis hingga 10–14 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan.