Seorang paus kripto yang dikenal dengan julukan “1011 Insider Whale” menyetor hampir 100.000 Ethereum (ETH) ke Binance pada 1 Februari 2026, hanya beberapa jam sebelum mengalami likuidasi penuh dalam salah satu kerugian trader tunggal terbesar dalam sejarah pasar kripto.
Transaksi tersebut bernilai sekitar US$242 juta (sekitar Rp4,06 triliun) dan terjadi di tengah kejatuhan pasar kripto global yang dalam 24 jam menghapus lebih dari US$2,5 miliar (sekitar Rp41.95 triliun) posisi leverage.
Analis on-chain Ai Yi dan Onchain Lens melaporkan bahwa wallet terkait menyetor tepat 99.998,97 ETH ke Binance. Paus tersebut diduga kuat adalah Garrett Jin, mantan CEO BitF. Meski mengalami kerugian besar, alamat on-chain itu masih tercatat memegang lebih dari 472.000 ETH dan 39.600 Bitcoin, dengan total nilai aset melebihi US$4,26 miliar.
Likuidasi ETH US$660 Juta, Kerugian Capai US$270 Juta
Deposit masif ke Binance tersebut mendahului peristiwa likuidasi besar di bursa terdesentralisasi Hyperliquid. Data dari BlockBeats dan MLM Monitor menunjukkan bahwa posisi long ETH milik whale dengan nilai lebih dari US$660 juta (sekitar Rp11,07 triliun) dilikuidasi sepenuhnya pada awal 1 Februari.
Total kerugian yang ditanggung selama dua pekan terakhir diperkirakan mencapai US$270 juta. Setelah likuidasi, saldo akun Hyperliquid trader tersebut hanya menyisakan US$55, sementara total kerugian kumulatif historisnya melampaui US$128 juta (sekitar Rp2,15 triliun).
Analis EmberCN mencatat, sebelum kehancuran total, posisi trader ini sempat berayun ekstrem dari US$142 juta keuntungan belum terealisasi menjadi US$67 juta kerugian belum terealisasi.
“Ini menandai akhir sebuah era bagi salah satu trader kripto yang paling banyak dipantau,” tulis para analis on-chain.
Julukan “Whale Insider 1011” merujuk pada aksi terkenal trader ini saat flash crash 11 Oktober 2025, ketika ia meraup keuntungan besar dengan melakukan short tepat sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan ancaman tarif terhadap China.
Pasar Kripto Ambruk, Likuidasi Sentuh Rekor
Tekanan jual masif membuat Ethereum anjlok ke bawah US$2.400, turun lebih dari 10% dalam 24 jam, sementara Bitcoin merosot di bawah US$78.000, level terendah sejak April 2025.
Data CoinGlass mencatat total likuidasi pasar kripto mencapai sekitar US$2,58 miliar, dengan posisi Ethereum menyumbang lebih dari US$1,15 miliar dan Bitcoin sekitar US$785 juta. Sebanyak 435.344 trader terdampak, dengan posisi long mencatat kerugian terbesar hingga US$2,42 miliar.
Indeks Crypto Fear & Greed merosot ke level 14, menandakan kondisi extreme fear. Analis dari The Kobeissi Letter menyebut peristiwa ini sebagai likuidasi terbesar ke-10 dalam sejarah kripto.
Menurut para analis, gejolak pasar dipicu oleh kombinasi leverage berlebihan, likuiditas yang menipis, serta sentimen risk-off global menyusul perpanjangan penutupan pemerintah Amerika Serikat. CEO CryptoQuant Ki Young Ju menegaskan bahwa likuiditas pembeli telah mengering, menyebut modal segar untuk menopang pasar bullish “telah benar-benar menghilang”.