BANGKOK, THAILAND – Militer Thailand mengumumkan keberhasilan merebut kembali wilayah Chong An Ma di Provinsi Ubon Ratchathani dari kendali pasukan Kamboja, Minggu (27/7/2025). Aksi ini menjadi titik balik dalam ketegangan perbatasan yang kian memanas, memicu perhatian global terhadap konflik Thailand-Kamboja.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di laman Facebook Cadangan Pasukan Militer Angkatan Darat Kerajaan Thailand (RTA), pasukan Thailand berhasil mengambil alih wilayah di Zona Tambon, Distrik Nam Yuen, yang disebut sebagai area yang diduduki “agresor Kamboja”.
Upacara pengibaran bendera nasional Thailand digelar pada pukul 08.00 waktu setempat, diiringi lagu kebangsaan sebagai simbol kedaulatan.
“Pada pukul 08.00 pagi ini (27 Juli), tentara Thailand kembali mengibarkan bendera nasional Thailand, diiringi dengan lantunan lagu kebangsaan yang merdu, menunjukkan komitmen teguh bahwa ‘Kemerdekaan kita tidak akan pernah terancam!'” tulis RTA dalam unggahannya, seperti dikutip dari The Nation.
Konflik ini merupakan bagian dari sengketa wilayah yang telah berlangsung lama, terutama di sekitar Segitiga Zamrud dan kompleks Candi Preah Vihear, yang memicu bentrokan bersenjata sejak Mei 2025. Ketegangan meningkat setelah insiden ranjau darat yang melukai tentara Thailand, diikuti serangan udara menggunakan jet tempur F-16 dan baku tembak artileri di perbatasan.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Thailand, Jenderal Kitrat Phanphet, memperketat keamanan dengan memerintahkan pengawasan intensif untuk mencegah infiltrasi mata-mata di wilayah strategis.
Kitrat juga mengunjungi Rumah Sakit Sisaket untuk memberikan dukungan kepada Sersan Polisi Wachira Kusonphan (32), yang terluka akibat serangan Kamboja di sebuah toko swalayan.
Mediasi Malaysia dan Respons Global
Eskalasi konflik mendorong Malaysia menawarkan diri sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Penjabat Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai dijadwalkan bertemu di Malaysia pada Senin (28/7/2025) untuk membahas gencatan senjata. “Mereka memiliki kepercayaan penuh pada Malaysia dan meminta saya untuk menjadi mediator,” ujar Mohamad, dikutip dari Al Arabiya.
Presiden AS Donald Trump juga turut mendesak gencatan senjata melalui panggilan telepon dengan kedua pemimpin. Kamboja menyatakan setuju dengan gencatan senjata tanpa syarat, sementara Thailand menekankan pentingnya dialog sebagai langkah awal.
Dampak dan Kekhawatiran Regional
Pertempuran yang telah menewaskan sedikitnya 32 orang dan melukai lebih dari 130 jiwa ini memicu kekhawatiran akan stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, menyatakan keyakinannya bahwa kedua negara akan kembali ke jalur damai sesuai prinsip ASEAN.
Pihak berwenang Thailand telah mengevakuasi sekitar 40.000 warga dari 86 desa di perbatasan ke tempat penampungan aman.
Sengketa ini berakar pada peta kolonial Prancis tahun 1907 dan putusan Mahkamah Internasional (ICJ) 1962 yang memberikan kedaulatan Candi Preah Vihear kepada Kamboja, meski Thailand masih mempersoalkan batas wilayah di sekitarnya.
Konflik serupa pada 2011 juga menyebabkan korban jiwa dan pengungsian massal. Dengan situasi yang masih tegang, dunia menanti hasil mediasi Malaysia untuk meredakan konflik yang berpotensi mengguncang stabilitas regional.