JATIM — Sebanyak 40 jenazah korban runtuhnya gedung musala empat lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, telah berhasil diidentifikasi. Dari total 61 korban, termasuk dua jenazah dari tujuh potongan tubuh yang ditemukan tim SAR gabungan di balik reruntuhan.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa jenazah yang sudah teridentifikasi langsung diserahkan kepada keluarga untuk dibawa pulang dan dikebumikan di kampung halaman masing-masing.
“40 jenazah yang telah dikenali itu diserahkan kepada keluarga dan dibawa ke kampung halaman untuk dikebumikan,” jelas Abdul Muhari.
Meski sudah ada kemajuan signifikan, upaya tim Disaster Victim Identification (DVI) belum selesai. Masih ada 21 jenazah dan lima potongan tubuh lainnya yang sedang diupayakan identitasnya.
Proses identifikasi ini sangat krusial untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban yang menanti dengan sabar.
Sementara itu, keluarga dan wali korban yang tinggal di tenda pengungsian di halaman Rumah Sakit Bhayangkara terus mendapat dukungan penuh.
Tenda berukuran 6×12 meter itu tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tapi juga menyediakan berbagai kebutuhan mulai dari makanan, kebutuhan dasar pribadi, pelayanan kesehatan, hingga layanan psikososial dan pijat bekam gratis sesuai permintaan keluarga.
Adapun posko darurat yang semula berdiri dekat lokasi kejadian kini telah dipindahkan ke kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.
Pergantian ini merupakan bagian dari masa transisi rehabilitasi dan rekonstruksi yang kini menjadi tanggung jawab BPBD, sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap memberikan pendampingan berkelanjutan.
Peristiwa runtuhnya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny ini menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat, terutama terkait upaya pemulihan serta dukungan kepada keluarga korban.