Sebuah investigasi digital mendalam yang dirilis oleh Al Jazeera pada 3 Maret 2026 menyajikan kesimpulan yang menggetarkan dunia: serangan udara AS-Israel yang menghancurkan SD Perempuan Shajareh Tayyebeh di Iran Selatan diduga kuat merupakan tindakan disengaja.
Serangan yang terjadi pada 28 Februari tersebut menewaskan sedikitnya 165 orang, di mana mayoritas korbannya adalah anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun yang sedang mengikuti jam pelajaran.
Bukti Satelit: Pemisahan Fisik yang Jelas
Tim investigasi menganalisis citra satelit selama satu dekade terakhir untuk membantah klaim “kerusakan kolateral”. Temuan kunci menunjukkan bahwa meski sekolah tersebut dulunya berada di dalam kompleks militer Brigade Asif (IRGC), sejak tahun 2016 sekolah telah dipisahkan secara total dengan tembok tinggi.
Bahkan, sekolah tersebut memiliki pintu masuk sipil yang sangat berbeda dan jauh dari gerbang militer. Investigasi ini mematahkan narasi bahwa sekolah tersebut adalah bagian dari target militer aktif.
Presisi yang Mencurigakan
Data video dan satelit menangkap detail yang mengerikan:
-
Target Independen: Klip video menunjukkan kolom asap terpisah naik secara bersamaan dari pangkalan militer dan gedung sekolah. Ini mengindikasikan sekolah menerima hantaman rudal langsung, bukan efek ledakan dari gedung sebelah.
-
Intelijen Terkini: Anehnya, Klinik Martir Absalan—fasilitas medis yang baru dibuka pada 2025 di dalam kompleks tersebut—sama sekali tidak tersentuh. Hal ini membuktikan bahwa penyerang memiliki data intelijen yang sangat akurat dan mampu membedakan tiap gedung dengan presisi tinggi.
Investigasi menyimpulkan dua kemungkinan pahit: pertama, adanya “kelalaian berat” karena menggunakan data intelijen usang sebelum tahun 2013; atau kedua, serangan ini dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan dampak psikologis dan sosial yang masif di tengah masyarakat Iran.
Dunia Mengutuk, Pelaku Menghindar
Meski Washington melalui Menlu Marco Rubio dan militer Israel membantah keterlibatan sengaja, tekanan internasional terus memuncak. PBB, UNESCO, hingga peraih Nobel Malala Yousafzai telah melayangkan kecaman keras.
Euro-Mediterranean Human Rights Monitor menegaskan bahwa status sekolah sebagai fasilitas sipil tetap terlindungi secara hukum internasional, terlepas dari lokasinya yang berdekatan dengan instalasi militer.
Pada 3 Maret, ribuan warga berkumpul di Minab dalam suasana duka yang mendalam untuk pemakaman massal. Di bawah kepulan asap yang belum sepenuhnya hilang, tangisan para orang tua berubah menjadi seruan protes yang menuntut keadilan bagi 165 nyawa yang hilang dalam sekejap.