TEHERAN — Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali meningkat tajam setelah Parlemen Iran dikabarkan menyetujui opsi penutupan Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan militer Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir strategis di Iran.
Sumber parlemen menyebutkan, langkah ini kini tengah menunggu keputusan akhir dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran di tengah konflik Iran-Israel yang semakin memanas.
Langkah penutupan Selat Hormuz — jalur laut vital yang menyalurkan hampir 20 persen pasokan energi global — digambarkan sebagai opsi serius namun belum dieksekusi.
Komandan Garda Revolusi, Esmail Kosari, menegaskan kepada Young Journalist Club bahwa penutupan selat itu “masuk agenda” dan akan dilakukan “jika dianggap perlu dalam kondisi tertentu”.
Sebelum serangan udara Amerika pada Minggu dini hari waktu Iran, para pejabat senior di parlemen telah memberi sinyal keras bahwa respons militer dan ekonomi tengah disiapkan.
Behnam Saeedi, anggota presidium Komite Keamanan Nasional Parlemen, mengungkapkan bahwa “penutupan Selat Hormuz merupakan satu dari sekian banyak opsi strategis Iran” dalam menghadapi tekanan luar, khususnya dari Barat.
Iran di Persimpangan: Diplomasi Atau Konfrontasi?
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang sedang berada di Istanbul untuk membahas konflik Iran-Israel bersama perwakilan Liga Arab, menyampaikan bahwa meskipun berbagai langkah balasan telah disiapkan, diplomasi tetap menjadi opsi utama Teheran.
“Ada berbagai pilihan yang tersedia bagi kami—dan hanya itu… tentu saja jalan menuju diplomasi harus selalu terbuka,” ujar Araghchi dalam pidatonya, menggarisbawahi pentingnya menunggu respons global sebelum Iran menentukan arah strategis berikutnya.
Sementara itu, perusahaan pelayaran global seperti Maersk menyatakan masih mengoperasikan kapal di kawasan Selat Hormuz, namun siap mengevaluasi situasi secara real-time dan mengambil tindakan darurat jika ancaman terhadap keamanan pelayaran meningkat.
Reaksi Global: AS dan China Turut Terseret
Ancaman penutupan Selat Hormuz ini tidak hanya mengguncang pasar energi, tapi juga memicu kekhawatiran global.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengimbau China agar menekan Iran agar tidak merealisasikan ancaman tersebut.
Menurut Rubio, “jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, itu akan menjadi kesalahan fatal secara ekonomi dan memicu eskalasi yang jauh lebih besar.”
“Jika mereka melakukan itu, itu akan menjadi kesalahan besar lainnya. Itu sama saja dengan bunuh diri secara ekonomi bagi mereka,” ujar Rubio dalam wawancara di Fox News.
Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman dan menjadi jalur ekspor utama bagi negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.
Sekitar 18 juta barel minyak — atau 20% konsumsi global harian — melalui selat yang hanya selebar 33 kilometer itu.***
