Tim SAR Gabungan berhasil menemukan black box pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Rabu (21/1/2026) siang. Perangkat vital tersebut ditemukan di kedalaman sekitar 131 meter dari puncak gunung, menjadi titik penting dalam pengungkapan penyebab kecelakaan yang menewaskan 10 orang.
Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, menyampaikan bahwa black box ditemukan dalam kondisi utuh di bagian ekor pesawat sekitar pukul 11.00 WITA.
“Alhamdulillah black box sudah berhasil dilepaskan dari dudukannya dan saat ini dalam proses dibawa turun menuju posko,” ujarnya di Posko Operasi SAR Gabungan Desa Tompobulu.
Penemuan ini diharapkan dapat membuka tabir penyebab kecelakaan pesawat yang terjadi pada Sabtu (17/1/2026) lalu, sekaligus menjadi bahan utama investigasi lanjutan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Sementara itu, proses evakuasi korban berlangsung di medan yang sangat ekstrem. Pada Rabu pagi, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi korban pertama berjenis kelamin laki-laki menggunakan helikopter Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) tipe Dauphin HR-3601. Helikopter lepas landas dari Lanud Hasanuddin pukul 07.47 WITA dan melakukan pengangkatan jenazah dengan teknik hoist pada 07.59 WITA.
Korban tersebut sebenarnya telah ditemukan sejak Minggu (18/1/2026) di jurang sedalam 200 meter, namun baru dapat dievakuasi setelah hampir tiga hari akibat cuaca buruk dan medan curam. Sementara korban kedua berjenis kelamin perempuan yang ditemukan di kedalaman 500 meter telah diserahkan kepada Tim DVI Polda Sulsel pada Selasa malam.
Tim DVI kemudian mengidentifikasi korban tersebut sebagai Florencia Lolita Wibisono, pramugari berusia 33 tahun asal Jakarta Timur. Proses identifikasi dilakukan melalui pencocokan sidik jari dan data rekam medis.
Terkait kronologi kecelakaan, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan pesawat dengan registrasi PK-THT lepas landas dari Yogyakarta pada pukul 08.08 WIB dengan misi pengawasan kelautan untuk Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pesawat mengangkut tujuh kru dan tiga penumpang.
Saat mendekati wilayah udara Makassar, AirNav Indonesia mendeteksi pesawat tidak berada di jalur pendaratan yang semestinya dan memberikan instruksi koreksi. Namun, komunikasi kemudian terputus. Direktur Utama AirNav, Avirianto Suratno, menegaskan bahwa ATC tidak pernah mengarahkan pesawat ke wilayah pegunungan.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan pesawat telah dilengkapi Terrain Awareness Warning System (TAWS) untuk mendeteksi kontur pegunungan. Namun, berfungsi atau tidaknya sistem tersebut baru dapat dipastikan setelah analisis black box selesai.
“Kecelakaan ini masuk kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT),” ujarnya.
