JAKARTA — Suasana duka menyelimuti Gedung Kementerian Pertahanan setelah wafatnya mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang dikenal sebagai arsitek modernisasi pertahanan Indonesia.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla tampak hadir memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum dalam prosesi persemayaman di Jakarta, Minggu.
SBY tiba di lokasi sekitar pukul 10.10 WIB tanpa didampingi rombongan, sementara JK telah lebih dulu datang sekitar pukul 09.30 WIB untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga.
Jenazah almarhum disemayamkan di Ruang Hening Gedung Kementerian Pertahanan sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir.
“Kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa, almarhum Prof. Dr. Juwono Sudarsono. Saya mengenal almarhum secara pribadi,” kata SBY saat diwawancarai selepas bertakziah, seperti dilansir Antara.
Kehadiran para tokoh nasional juga diikuti sejumlah pejabat Kabinet Presiden Prabowo Subianto, termasuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti serta Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim.
Prosesi pelepasan jenazah berlangsung khidmat dan dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan sebelum jenazah diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan serta keluarga besar almarhum turut hadir mengiringi prosesi terakhir sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya.
Dalam kenangannya, SBY menegaskan bahwa Juwono merupakan figur penting yang berperan dalam mendorong modernisasi sistem pertahanan nasional.
Ia juga menyoroti latar belakang sipil Juwono yang dinilai mampu membawa perspektif strategis dalam membangun kekuatan pertahanan Indonesia.
“Salah satu yang kami pikirkan dulu dengan Pak Juwono dan kemudian dengan Pak Purnomo Yusgiantoro sebagai Menteri Pertahanan, bagaimana Indonesia memiliki Universitas Pertahanan,” kata SBY.
Juwono Sudarsono sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada era Presiden Abdurrahman Wahid dan kembali dipercaya pada masa pemerintahan SBY.
Selain dikenal sebagai pejabat negara, ia juga merupakan Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang berkontribusi besar dalam dunia akademik.
Almarhum menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (28/3) pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah pertahanan dan pendidikan Indonesia.***