Jepang telah memasuki tahun 2026. Setiap pergantian tahun, Jepang menyambut datangnya tahun baru dengan sebuah ritual spiritual yang telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi ini dikenal sebagai Joya no Kane, sebuah upacara pemukulan lonceng raksasa di kuil-kuil Buddha yang sarat makna penyucian diri dan refleksi batin.
Pada malam 31 Desember 2025, tepat menjelang tengah malam, dentangan lonceng besar atau bonshō mulai menggema di berbagai penjuru Jepang. Tidak sekadar penanda waktu, bunyi lonceng tersebut dipercaya memiliki kekuatan simbolik untuk membersihkan jiwa manusia dari 108 nafsu duniawi—segala bentuk keinginan dan emosi negatif seperti keserakahan, kemarahan, iri hati, hingga kebodohan—yang diyakini menjadi sumber penderitaan manusia menurut ajaran Buddha.
Ritual ini umumnya dilakukan dengan memukul lonceng sebanyak 108 kali. Di banyak kuil, 107 pukulan dibunyikan sebelum tengah malam, sementara satu pukulan terakhir dilakukan tepat setelah tahun baru dimulai.
Ada pula kuil yang membagi 108 pukulan tersebut secara merata di antara detik-detik pergantian tahun. Setiap dentangan melambangkan pelepasan satu demi satu sifat buruk manusia, hingga memasuki tahun baru dengan hati dan pikiran yang lebih bersih.
Tradisi Joya no Kane dapat disaksikan di hampir seluruh kuil Buddha di Jepang, termasuk kuil-kuil bersejarah seperti Chion-in yang memiliki lonceng terbesar di Jepang, serta Todai-ji yang terkenal dengan nilai sejarah dan spiritualnya.
Suasana di kuil-kuil ini biasanya hening dan khidmat, dengan ribuan umat dan wisatawan berkumpul dalam keheningan, menanti dentangan lonceng yang bergema panjang dan dalam.
Menariknya, banyak kuil membuka kesempatan bagi pengunjung untuk ikut serta memukul lonceng. Dengan membayar donasi atau tiket simbolis, pengunjung dapat merasakan langsung pengalaman spiritual ini. Karena jumlah peserta dibatasi, masyarakat biasanya datang lebih awal untuk mengantre dan mengikuti ritual dengan tertib.
Dentangan lonceng yang berat dan bergema perlahan menciptakan atmosfer reflektif, seolah mengajak setiap orang untuk menutup lembaran tahun dengan introspeksi, sekaligus membuka tahun baru dengan ketenangan dan harapan. Lebih dari sekadar tradisi, Joya no Kane menjadi pengingat akan pentingnya melepaskan beban batin dan memulai perjalanan baru dengan jiwa yang damai.
