JAKARTA – Tanggal 16 September menyimpan deretan momen krusial dalam sejarah dunia, mulai dari akhir masa kepausan hingga lahirnya sebuah negara federal di Asia Tenggara.
Berbagai catatan sejarah yang tak terlupakan ini menjadi pengingat akan dinamika politik, agama, dan perjuangan kemerdekaan.
Berikut rangkuman peristiwa penting 16 September.
Kematian Paus Viktor III pada 1087: Akhir Era Kepemimpinan Gereja Katolik
Salah satu peristiwa paling signifikan di bidang sejarah agama adalah wafatnya Paus Viktor III pada 16 September 1087.
Paus yang bernama asli Dauferius ini lahir sekitar tahun 1026 di Benevento, Italia, dan menutup usia di Monte Cassino, Italia.
Ia menjabat sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma mulai 24 Mei 1086 hingga kematiannya setahun kemudian.
Paus Viktor III dikenal sebagai figur transisi di tengah gejolak politik dan reformasi gereja pada Abad Pertengahan. Masa kepemimpinannya yang singkat dipenuhi tantangan internal, termasuk konflik dengan faksi-faksi kekuasaan di Italia.
Kematiannya menandai akhir dari periode yang penuh intrik, dan warisannya tetap menjadi bagian penting dalam studi sejarah Vatikan.
Bagi pencari tahu tentang sejarah paus, kisah Viktor III menawarkan wawasan mendalam tentang bagaimana pemimpin gereja menghadapi tekanan eksternal pada era tersebut.
Wafatnya Raja Charles V Prancis, Sang Penguasa Bijaksana
Pada hari yang sama di tahun 1380, dunia Eropa kehilangan Raja Charles V dari Prancis, yang dijuluki “le Sage” atau “orang bijaksana”. Penguasa dari Wangsa Valois ini memerintah sejak 1364 hingga akhir hayatnya, meninggalkan jejak sebagai strategi militer ulung yang berhasil merebut kembali wilayah Prancis dari Inggris selama Perang Seratus Tahun.
Charles V dikenal karena pendekatannya yang cerdas dalam diplomasi dan administrasi, yang membantu memperkuat kerajaan Prancis di tengah kekacauan abad ke-14.
Kematiannya pada 16 September 1380 menjadi titik balik, memengaruhi dinamika kekuasaan Eropa selatan. Peristiwa ini sering dibahas dalam konteks sejarah monarki Prancis, menyoroti bagaimana seorang raja bijak bisa mengubah nasib sebuah bangsa.
Hari Malaysia: Pembentukan Federasi pada 1963
Di era modern, 16 September 1963 menjadi tonggak bersejarah dengan berdirinya Federasi Malaysia. Negara ini, yang terdiri dari 13 negeri dan tiga wilayah federal di Asia Tenggara, memiliki luas wilayah 329.847 km persegi dan ibu kota Kuala Lumpur—sementara Putrajaya berfungsi sebagai pusat pemerintahan.
Pada 2015, populasi Malaysia mencapai sekitar 30,697 juta jiwa, dengan batas darat dan laut bersama Thailand, Indonesia, Singapura, Brunei, serta Filipina.
Sebelumnya, wilayah ini terpecah menjadi koloni Britania sejak akhir abad ke-18, yang kemudian direorganisasi sebagai Uni Malaya pada 1946 dan Federasi Malaya pada 1948. Kemerdekaan Federasi Malaya diraih pada 31 Agustus 1957.
Kemudian, pada 16 September 1963 sesuai Resolusi Majelis Umum PBB 1514 tentang dekolonisasi, Singapura, Sarawak, dan Borneo Utara (kini Sabah) bergabung membentuk Malaysia.
Namun, Singapura keluar pada 9 Agustus 1965 dan menjadi Republik Singapura yang merdeka. Masa awal federasi ini diwarnai penolakan dari Filipina serta konflik bersenjata dengan Indonesia, yang menambah kompleksitas proses integrasi regional.
Peristiwa pembentukan Malaysia ini tidak hanya mengubah peta politik Asia Tenggara, tetapi juga menjadi pelajaran berharga tentang dekolonisasi dan tantangan persatuan multi-etnis.
Hari ini dirayakan sebagai Hari Malaysia, simbol perjuangan bangsa melawan penjajahan.
Peristiwa-peristiwa 16 September ini menggambarkan bagaimana satu tanggal bisa menyatukan narasi dari berbagai era, dari gereja hingga kemerdekaan nasional. Untuk lebih dalam memahami sejarah Paus Viktor III atau Hari Malaysia, eksplorasi sumber primer seperti arsip Vatikan atau dokumen PBB bisa memberikan perspektif tambahan.
