JAKARTA – Tepat 15 tahun lalu, pada 25 Oktober 2010, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dilanda tsunami dahsyat yang dipicu gempa bumi berkekuatan 7,2 SR. Bencana ini menewaskan 509 jiwa, melukai ratusan orang, dan menghancurkan ribuan rumah, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat.
Peristiwa ini berawal pada malam hari ketika gempa tektonik mengguncang wilayah sekitar 78 km barat daya Pagai Selatan. Guncangan tersebut memicu gelombang tsunami setinggi tiga meter yang menerjang 14 kecamatan di Kepulauan Mentawai. “Gelombang datang tiba-tiba, menyapu desa-desa pesisir tanpa ampun,” kenang seorang saksi mata, warga Pulau Pagai, dalam wawancara saat itu.
Data resmi mencatat 509 korban jiwa, 21.000 jiwa kehilangan tempat tinggal, dan lebih dari 4.000 rumah rusak berat. Infrastruktur seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum juga hancur, memperparah dampak bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat melaporkan bahwa proses evakuasi dan pencarian korban berlangsung sulit akibat medan terpencil serta gelombang laut yang masih tidak stabil.
“Tsunami ini menjadi pengingat pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan,” ujar Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
Hingga kini, peristiwa ini mendorong pemerintah memperkuat teknologi peringatan tsunami dan edukasi masyarakat pesisir.
Peringatan 15 tahun tsunami Mentawai ini menjadi momentum untuk merefleksikan langkah pencegahan bencana di masa depan. Pemerintah daerah dan pusat terus berupaya membangun infrastruktur tahan bencana serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman gempa dan tsunami.