BANDAR ABBAS, IRAN – Lima warga sipil tewas akibat dua insiden ledakan terpisah yang diduga dipicu kebocoran gas di wilayah selatan dan barat daya Iran, menurut laporan pejabat setempat dan media resmi. Kejadian ini terjadi saat ketegangan geopolitik di kawasan Teluk semakin memanas, dengan peningkatan kehadiran militer AS dan tekanan diplomatik terkait program nuklir Teheran.
Insiden pertama melanda Kota Bandar Abbas, pelabuhan strategis di pesisir Teluk, di mana satu orang meninggal dunia dan 14 lainnya mengalami luka-luka. Ledakan tersebut menghancurkan sebuah gedung apartemen berlantai delapan, merusak dua lantai utama, serta beberapa kendaraan dan toko di sekitar Moallem Boulevard. Kepala pemadam kebakaran setempat, Mohammad Amin Liaqat, menyatakan bahwa penyelidikan awal menunjukkan penyebabnya adalah penumpukan gas akibat kebocoran.
“Rekan-rekan saya akan memberikan detail lebih lanjut dalam beberapa jam ke depan,” katanya dalam video yang diterbitkan kantor berita semi-resmi Mehr.
Pejabat regional Mehrdad Hassanzadeh mengonfirmasi bahwa korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat. Kantor berita Tasnim membantah spekulasi di media sosial yang menyebut ledakan menargetkan seorang komandan angkatan laut Korps Garda Revolusi Iran, dan menegaskan bahwa insiden ini murni kecelakaan domestik.
Sementara itu, ledakan kedua di Kota Ahvaz, dekat perbatasan Irak, menewaskan empat orang di sebuah gedung perumahan di lingkungan Kianshahr. Tim darurat berhasil menyelamatkan seorang anak yang terperangkap di bawah puing-puing dan membawanya untuk perawatan medis intensif, seperti dilaporkan Tehran Times yang dikelola pemerintah.
Kedua ledakan ini mencuat di tengah dinamika internasional yang tegang. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (31/1/2026) menyatakan bahwa Iran “sedang berbicara dengan” Washington terkait isu nuklir. “Mereka sedang bernegosiasi,” katanya kepada Fox News, sambil menambahkan bahwa Washington tidak dapat membagikan rencananya dengan sekutunya di Teluk. “Kita lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu, jika tidak, kita lihat saja apa yang terjadi… kita memiliki armada besar yang menuju ke sana.”
Pernyataan Trump datang setelah peningkatan pasukan AS di Teluk yang memicu kekhawatiran perang regional. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan sikap damai Teheran dalam panggilan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. “Republik Islam Iran tidak pernah dan sama sekali tidak menginginkan perang,” katanya, seperti dikutip AFP dari pernyataan kepresidenan Iran.
Upaya diplomasi juga terlihat dari pertemuan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dengan Perdana Menteri Qatar di Teheran pada Sabtu. Mereka membahas “upaya yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan di kawasan tersebut”, menurut Kementerian Luar Negeri Qatar. Larijani, yang sehari sebelumnya bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, menulis di platform X, “Bertentangan dengan pemberitaan media yang dibuat-buat.” Ia menambahkan, “Perang bukanlah pilihan; pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berlangsung.”
Menteri Luar Negeri Iran juga menyatakan keterbukaan Teheran untuk berdialog dengan AS, asalkan didasarkan pada kepercayaan dan rasa hormat. Namun, ia memperingatkan bahwa sistem pertahanan rudal Iran “tidak akan pernah” menjadi subjek negosiasi.
Insiden ledakan gas seperti ini kerap terjadi di Iran akibat infrastruktur tua dan pemeliharaan yang kurang optimal, meski kali ini bertepatan dengan sorotan global atas ketegangan nuklir. Pihak berwenang Iran terus menyelidiki penyebab pasti kejadian tersebut guna mencegah insiden serupa, sementara komunitas internasional memantau perkembangan diplomasi di kawasan.