PAPUA BARAT – Tanggal 4 Oktober 2010 menjadi hari kelam dalam sejarah Indonesia ketika banjir bandang dahsyat melanda Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.
Bencana alam ini menewaskan 158 jiwa dan menyisakan 145 orang hilang hingga kini, meninggalkan trauma panjang bagi masyarakat setempat. Hingga saat ini, peristiwa ini tetap menjadi pengingat betapa rentannya wilayah pegunungan terhadap dampak deforestasi dan cuaca ekstrem.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dikutip dari berbagai sumber, banjir bandang dipicu oleh hujan deras yang mengguyur selama hampir seharian penuh.
Ditambah dengan kerusakan hutan akibat aktivitas penebangan liar, Sungai Batang Salai akhirnya meluap tak terkendali. Arus deras air bercampur lumpur, batu-batu raksasa, dan batang pohon menyapu segala yang ada di jalurnya, menghancurkan infrastruktur vital di kawasan tersebut.
Dampaknya luar biasa merusak: Bandara Wasior lumpuh total, rumah sakit setempat porak-poranda, jembatan-jembatan putus, serta puluhan rumah warga dan gereja-gereja roboh.
Banjir bandang ini juga memutus aliran listrik dan jaringan komunikasi, membuat upaya evakuasi dan bantuan darurat terhambat berjam-jam. Aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat lumpuh seketika, dengan ribuan warga mengungsi ke daerah yang lebih aman.
Pakar lingkungan dari Universitas Papua menyoroti bahwa deforestasi di daerah hulu sungai menjadi faktor utama yang memperburuk skala bencana.
“Kerusakan hutan ditambah hujan lebat yang melanda selama satu hari sehingga mengakibatkan Sungai Batang Salai meluap,” seperti yang tercatat dalam laporan resmi BNPB.
Upaya rehabilitasi pasca-bencana melibatkan TNI-Polri dan relawan nasional, yang berhasil mendistribusikan bantuan makanan, obat-obatan, serta tenda sementara. Namun, pencarian korban hilang terus berlangsung selama berminggu-minggu, meninggalkan kisah pilu bagi keluarga yang kehilangan.
Tragedi Wasior ini bukan hanya angka korban jiwa semata, melainkan pelajaran berharga tentang urgensi konservasi hutan dan sistem peringatan dini bencana. Pemerintah daerah kini mendorong program reboisasi intensif di Teluk Wondama untuk mencegah pengulangan sejarah.
Di tengah peringatan 15 tahun bencana ini pada 2025, masyarakat Wasior tetap berjuang membangun kembali kehidupan, dengan harapan masa depan yang lebih aman dari ancaman alam.