Jumlah korban tewas dalam gelombang demonstrasi di Iran dilaporkan melonjak tajam dalam dua hari terakhir. Data tersebut disampaikan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga pemantau HAM yang berbasis di Amerika Serikat.
Pada Senin lalu, HRANA mencatat jumlah demonstran yang tewas telah melampaui 500 orang dalam kurun waktu sedikit lebih dari dua pekan aksi protes. Namun, angka itu meningkat drastis pada hari berikutnya.
Dalam laporan terbaru, jumlah korban melonjak menjadi 1.850 orang, sebelum kembali naik hingga menembus lebih dari 2.400 korban hanya dalam hitungan jam.
HRANA menilai lonjakan ini sebagai angka kematian tertinggi dalam aksi protes di Iran selama beberapa dekade terakhir, jika dibandingkan dengan periode kerusuhan sebelumnya.
Kepada CNN, HRANA menegaskan bahwa data yang mereka rilis hanya mencakup kasus-kasus yang berhasil diidentifikasi dan diverifikasi. Namun, dengan kondisi Iran yang sebagian besar terputus dari akses internet akibat pemadaman komunikasi oleh negara, jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih besar.
CNN menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban tewas maupun angka penangkapan yang dilaporkan HRANA.
Hingga kini, pemerintah Iran belum mengakui keterlibatan aparat dalam kematian para demonstran. Otoritas setempat justru menuding bahwa para korban tewas akibat ulah “perusuh” yang diklaim sebagai pihak bayaran dari Israel dan Amerika Serikat.
