JAKARTA – Transportasi umum merupakan tulang punggung mobilitas masyarakat di kawasan metropolitan seperti Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan perjalanan harian yang padat, sistem transportasi massal menjadi kebutuhan pokok guna mengurangi kemacetan, emisi gas buang, dan tekanan biaya hidup. Meski begitu, kenyataan di lapangan menunjukkan tantangan besar dalam akses, kenyamanan, dan integrasi layanan transportasi umum yang masih perlu diperbaiki secara menyeluruh.
Pertumbuhan Pengguna Transportasi Umum
Menurut laporan Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, transportasi publik mengalami peningkatan penggunaan setelah fase pemulihan pascapandemi. Data menunjukkan:
-
TransJakarta melayani sekitar 32,2 juta penumpang pada September 2024, meningkat sekitar 24% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya.
-
MRT Jakarta melayani lebih dari 3,5 juta penumpang pada bulan yang sama, naik ±16,5% dibanding tahun lalu.
-
LRT Jakarta juga mencatat kenaikan meski volume penumpangnya relatif lebih kecil.
-
KRL Commuter Line, sebagai transportasi rel perkotaan yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, tetap menjadi moda dengan volume penumpang terbanyak secara keseluruhan. Meskipun data resmi bulanan Commuter Line tidak dipublikasikan oleh BPS, data historis menunjukkan lebih dari 800 ribu – 1 juta orang per hari pada hari kerja menggunakan layanan ini sebelum pandemi, sebuah angka yang kini kembali mendekati atau melampaui level tersebut seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Data ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap angkutan umum terus meningkat, bahkan ketika masih ada tantangan teknis di lapangan.
Tantangan Utama: Kepadatan dan Kapasitas
Walaupun terdapat tren peningkatan pengguna, beberapa tantangan klasik masih membayangi:
1. Kepadatan di KRL Commuter Line
KRL sering kali mengalami kepadatan tinggi pada jam sibuk pagi dan sore. Antrean panjang di peron serta kondisi gerbong yang penuh sesak masih menjadi pengalaman sehari-hari bagi para pengguna. Meski operator terus menambah jumlah rangkaian kereta, tekanan penumpang tetap tinggi karena mobilitas masyarakat yang masif.
2. Kepadatan di Moda Lain
TransJakarta juga mengalami isu serupa pada koridor tertentu, terutama di jalur yang melintas area padat kegiatan ekonomi seperti Sudirman Thamrin dan Blok M. MRT Jakarta yang hadir sebagai layanan rel premium juga menghadapi peningkatan permintaan, sementara LRT Jakarta masih memiliki jangkauan yang lebih kecil sehingga dampaknya terhadap mobilitas massal masih terbatas.
Masalah Akses dan Integrasi Moda
Sebuah persoalan penting yang sering menjadi sorotan adalah integrasi antarmoda. Walaupun sistem tiket elektronik terpadu seperti JakLingko telah diluncurkan, kenyataannya masih banyak titik perpindahan antar moda yang memerlukan waktu berjalan kaki yang cukup jauh atau kurang nyaman.
First-mile dan last-mile
Belum semua permukiman memiliki akses langsung ke halte atau stasiun. Hal ini membuat sebagian warga masih bergantung pada kendaraan pribadi atau ojek daring untuk mencapai titik awal transportasi massal.
Integrasi antarmoda
Idealnya, perjalanan dari KRL dapat diteruskan dengan bus TransJakarta, Microtrans JakLingko, atau MRT/LRT tanpa hambatan besar. Namun, integrasi fisik dan jadwal antar moda belum sepenuhnya sinkron sehingga masih terdapat kesempatan untuk perbaikan.
Dampak Lingkungan dan Keberlanjutan
Transportasi umum yang terkelola dengan baik memiliki dampak penting terhadap penurunan kepadatan kendaraan pribadi dan emisi karbon. Jakarta adalah salah satu kota dengan tingkat polusi udara yang tinggi, dan sektor transportasi menjadi salah satu kontributor utama emisi tersebut.
Menurut riset lingkungan urbana, peralihan 10-20% dari perjalanan kendaraan pribadi ke angkutan umum berpotensi menurunkan kepadatan lalu lintas secara signifikan serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Ketersediaan moda transportasi yang andal menjadi kunci dalam mendorong perubahan perilaku ini.
Upaya Perbaikan dan Pengembangan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan dan instansi terkait terus mendorong berbagai strategi untuk meningkatkan kualitas transportasi umum:
-
Ekspansi jaringan MRT Proyek Fase 2 dan 3 direncanakan untuk memperluas jangkauan layanan ke wilayah seperti Bekasi dan Jakarta Timur, bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
-
Penambahan layanan feeder Unit Mikrotrans JakLingko terus dikembangkan untuk memperluas jangkauan dari stasiun utama ke kawasan permukiman.
-
Optimalisasi KRL Penambahan jumlah rangkaian dan peningkatan frekuensi perjalanan pada jam sibuk sedang diupayakan untuk mereduksi kepadatan.
Harapan Menuju Sistem yang Lebih Andal
Transportasi umum Jakarta masih dalam fase pengembangan penting. Tantangan seperti kepadatan pada jam puncak, integrasi moda yang belum optimal, serta keterbatasan akses fisik di kawasan permukiman harus menjadi fokus utama kebijakan.
Dengan peningkatan kualitas layanan, penyempurnaan integrasi antarmoda, serta kampanye untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, Jakarta memiliki peluang menjadi contoh kota besar dengan sistem transportasi publik yang lebih efisien, nyaman, aman, dan ramah lingkungan.