JAKARTA – Pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi momen penting setelah keduanya memimpin operasi militer bersama terhadap Iran beberapa bulan lalu.
Agenda tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Netanyahu untuk memperbaiki hubungan politiknya dengan Trump yang belakangan dinilai mulai mengalami keretakan.
Keduanya sama-sama menghadapi tekanan politik dalam negeri yang semakin besar menjelang agenda politik penting di negara masing-masing.
Netanyahu menghadapi tantangan menjelang pemilu Israel, sementara Trump mendapat tekanan agar segera mengakhiri konflik yang memicu perlambatan ekonomi dan kenaikan harga menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat.
Selain membahas Iran, kedua pemimpin dijadwalkan mendiskusikan implementasi kesepakatan antara Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon pascakonflik Israel-Hezbollah.
Pertemuan itu juga akan membahas upaya memperluas Abraham Accords sebagai bagian dari normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab.
Trump mengakui masih terdapat sedikit perbedaan pandangan dengan Netanyahu mengenai Iran meski keduanya tetap memiliki tujuan yang hampir sama.
“Kami memang memiliki sedikit perbedaan pendapat, tetapi secara keseluruhan kami masih berada di jalur yang hampir sama,” kata Trump seperti dilansir AP News, Selasa.
Hubungan Trump dan Netanyahu Kembali Diuji
Hubungan Trump dan Netanyahu selama bertahun-tahun dikenal mengalami pasang surut meski kembali menguat setelah Trump kembali ke Gedung Putih.
Saat operasi militer terhadap Iran dimulai pada Februari lalu, kedua pemimpin menunjukkan solidaritas penuh dalam menyerang sasaran strategis Iran.
Namun situasi berubah ketika Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat serta sejumlah kota di kawasan Teluk.
Iran juga memperketat aktivitas di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia sehingga meningkatkan tekanan internasional kepada Washington.
Di tengah kondisi tersebut, Trump mulai mengedepankan jalur diplomasi dengan Teheran, sementara Netanyahu tetap mendorong kelanjutan operasi militer terhadap Iran dan Hezbollah.
Perbedaan strategi itu membuat posisi Netanyahu dinilai semakin melemah dalam pengambilan keputusan terkait konflik kawasan.
Analis politik Israel Amit Segal menilai Amerika Serikat kini sepenuhnya memegang kendali arah konflik tersebut.
“Amerika Serikat ingin menunjukkan kepada Israel bahwa merekalah yang mengendalikan jalannya perang dan semua orang kini melihat Israel berada di kursi belakang,” tulis Amit Segal.
Netanyahu Tetap Fokus pada Program Nuklir Iran
Netanyahu dikabarkan membawa laporan intelijen terbaru mengenai perkembangan program nuklir Iran untuk dipresentasikan kepada Trump.
Ia berharap mengetahui langkah lanjutan yang akan dipilih Washington dalam menghadapi Teheran.
“Saya ingin mendengar secara langsung apa yang sedang dipikirkan Presiden Trump mengenai Iran karena dalam banyak hal keputusan itu berada di tangannya,” ujar Netanyahu.
Menurut Netanyahu, penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik tetap menjadi pilihan apabila mampu menghentikan ambisi nuklir Iran.
“Jika hal itu dapat dilakukan tanpa kembali ke perang besar, tentu itu lebih baik, tetapi apa pun caranya, program nuklir Iran harus dihentikan,” tegasnya.
Netanyahu juga memperingatkan Iran agar tidak melancarkan serangan terhadap Israel.
“Jika Iran menyerang kami, respons Israel akan sangat keras,” katanya.
Diplomasi Gaza dan Lebanon Ikut Menjadi Sorotan
Selain Iran, Trump diperkirakan meminta jaminan bahwa Israel tidak akan menghambat proses diplomasi maupun rekonstruksi di Gaza dan Lebanon.
Amerika Serikat sebelumnya beberapa kali mengkritik tingginya jumlah korban sipil akibat operasi militer Israel di kedua wilayah tersebut.
Israel mulai mengambil sejumlah langkah yang dinilai mendukung proses tersebut.
Di Lebanon, Israel mengizinkan tentara Lebanon memasuki beberapa desa di wilayah selatan sebagai bagian dari program uji coba pengamanan pascaoperasi Hezbollah.
Putaran pembicaraan lanjutan antara Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung di Roma pekan depan dengan fokus memperluas program tersebut.
Sementara di Gaza, kabinet keamanan Israel menyetujui rencana pembukaan akses bagi pasukan stabilisasi internasional.
Pasukan tersebut dirancang berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat antara Israel dan Hamas pada tahun sebelumnya.
Maroko dan Uganda menjadi dua negara yang disebut siap mengirim personel meski jumlah peserta koalisi internasional masih sangat terbatas.
Pasukan hanya akan ditempatkan di kawasan Rafah untuk membantu proses penanganan warga Palestina yang mengungsi.
Meski demikian, operasi militer Israel di Gaza tetap berlangsung dan masih menimbulkan korban sipil menurut berbagai laporan.
Dukungan Publik Amerika terhadap Israel Terus Menurun
Dukungan masyarakat Amerika Serikat terhadap Israel terus mengalami penurunan terutama akibat konflik berkepanjangan di Gaza.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance bahkan pernah mengingatkan pejabat Israel bahwa Trump merupakan salah satu pemimpin dunia yang masih memberikan dukungan kuat kepada mereka.
Hasil survei AP-NORC yang dirilis bulan ini juga menunjukkan penurunan signifikan dukungan warga Amerika terhadap Israel.
Komentator politik Israel Ben Caspit menyebut kondisi tersebut sebagai kemunduran diplomatik bagi pemerintahan Netanyahu.
“Kita telah kehilangan Amerika. Terima kasih, Bibi,” tulis Ben Caspit.***



