WASHINGTON DC, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk pertama kalinya membuka opsi perang paling ekstrem sejak konflik pecah pekan lalu. Invasi darat untuk merebut paksa uranium Teheran yang menjadi bahan bakar bom nuklir, setelah stok bahan baku senjata itu secara misterius menghilang dari pengawasan internasional.
Pernyataan mengejutkan itu disampaikan Trump kepada wartawan dalam pengarahan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Sabtu (7/3/2026) malam waktu setempat. Ia mengakui bahwa bahan nuklir tersebut selama ini belum bisa dijangkau, dan operasi darat menjadi opsi yang terbuka.
“Mereka belum bisa mendapatkannya, dan mungkin suatu saat nanti kita akan melakukannya,” kata Trump kepada wartawan, mengutip pernyataannya yang dilansir Al Arabiya, Ahad (8/3/2026).
“Kita belum mengejarnya, tetapi itu adalah sesuatu yang bisa kita lakukan nanti,” tegasnya .
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran intelijen Amerika dan Israel yang semakin memuncak. Hampir sembilan bulan setelah serangan besar-besaran pada Juni 2025 yang menghantam fasilitas nuklir utama Iran, para inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kehilangan jejak akurat atas sekitar 441 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen hanya selangkah lagi menuju tingkat senjata (90 persen).
Jumlah tersebut, menurut penilaian AS, cukup untuk merakit sekitar selusin hulu ledak nuklir jika diproses lebih lanjut . Aktivitas mencurigakan di kompleks bawah tanah dekat Isfahan sebelum perang meningkatkan kemungkinan bahwa stok berharga itu telah dipindahkan dan disembunyikan.
“Mereka Akan Hancur Jika Bertempur di Darat”
Meskipun serangan udara dan rudal selama sepekan terakhir diklaim berhasil menghancurkan sebagian besar infrastruktur militer Iran, sejumlah kritikus menilai serangan dari udara saja tidak cukup untuk menjamin program nuklir Iran benar-benar terbongkar. Ketika ditanya secara spesifik mengenai kemungkinan pengiriman pasukan darat, Trump tidak menampiknya.
“Mungkinkah? Mungkin, untuk alasan yang sangat bagus—harus ada alasan yang sangat bagus,” ujarnya.
“Anda tahu, saya tidak ingin membicarakan pasukan darat. Tetapi mungkin untuk alasan yang sangat bagus… Dan saya akan mengatakan jika kita pernah melakukan itu, mereka akan sangat hancur sehingga mereka tidak akan mampu bertempur di darat,” tambah Trump, menegaskan dominasi militer AS .
Menurut laporan Bloomberg yang dikutip Irish Independent, pemerintah AS telah menyiapkan dua skenario jika pasukan khusus berhasil menguasai area penyimpanan uranium. Pertama, tim ahli akan dikerahkan untuk mengencerkan material radioaktif tersebut di tempat. Kedua, uranium dapat diangkat dan dibawa keluar dari Iran untuk dinetralisasi di lokasi lain .
Eskalasi Ancaman dan “Permintaan Maaf” yang Dipatahkan
Sebelum wacana invasi darat mencuat, Trump telah mengeluarkan ancaman paling kerasnya. Dalam unggahan di platform Truth Social, ia menyatakan Iran akan “dihantam sangat keras” dan memperluas target serangan ke area baru yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, mengancam “penghancuran total dan kematian yang pasti” .
Kemarahan Trump dipicu oleh pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di Teluk atas serangan balasan Iran, seraya berjanji tidak akan menyerang mereka kecuali wilayah mereka digunakan sebagai pangkalan untuk menyerang Iran.
“Permintaan maaf” ini langsung ditafsirkan Trump sebagai bentuk ketundukan. “Janji ini hanya dibuat karena serangan tanpa henti dari AS dan Israel,” tulis Trump. “Iran bukan lagi ‘Pengganggu Timur Tengah,’ melainkan ‘PIHAK YANG KALAH DI TIMUR TENGAH,’ dan akan tetap demikian selama beberapa dekade sampai mereka menyerah atau, kemungkinan besar, benar-benar runtuh!”
Respons Sengit Teheran
Teheran dengan cepat membantah narasi “menyerah” yang dibangun Trump. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa niat baik Pezeshkian untuk meredakan ketegangan dengan tetangga “dibunuh” oleh misinterpretasi Trump.
“Jika Tuan Trump menginginkan eskalasi, itulah yang telah lama dipersiapkan oleh Angkatan Bersenjata Perkasa kami, dan itulah yang akan ia dapatkan,” tulis Araghchi di akun X-nya, Ahad (8/3/2026) .
Araghchi juga menyoroti mahalnya biaya perang, menyebut petualangan militer Trump selama sepekan telah menghabiskan dana USD 100 miliar dan mengakibatkan gugurnanya prajurit muda AS. “Ketika pasar dibuka kembali, biaya itu akan membengkak, dan langsung ditanggung oleh rakyat Amerika biasa di pompa bensin,” sindirnya .
Hingga hari kedelapan konflik, militer AS mengklaim telah menghantam lebih dari 3.000 target di Iran, termasuk menghancurkan 43 kapal angkatan laut Iran . Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone balasan ke Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk, memicu sirene serangan udara di Yerusalem, Dubai, dan Manama .