Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kesiapan untuk melancarkan serangan terhadap Iran menyusul tindakan keras mematikan aparat Teheran terhadap demonstrasi anti-pemerintah. Meski demikian, Trump pada Rabu (waktu setempat) mengklaim telah menerima informasi bahwa Iran menghentikan pembunuhan terhadap demonstran dan membatalkan rencana eksekusi tahanan.
Ancaman tersebut menandai kelanjutan pendekatan kebijakan luar negeri Trump yang kerap mengandalkan kekuatan militer—atau ancamannya—sebuah strategi yang oleh para pengkritik dinilai berpotensi menggerus tatanan internasional pasca-Perang Dunia II.
Klaim Trump Berbanding Terbalik dengan Pernyataan Teheran
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menyebut informasi itu berasal dari “sumber-sumber penting dari pihak lain.” Namun, pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah kepala peradilan Iran mengisyaratkan percepatan proses pengadilan dan eksekusi terhadap lebih dari 18.000 tahanan. Dalam siaran televisi pemerintah, ia menegaskan, “Jika kami bermaksud mengambil tindakan, kami harus melakukannya segera.”
Jumlah korban jiwa akibat hampir tiga pekan gelombang protes masih sulit dipastikan karena pemadaman internet di Iran. Organisasi HAM HRANA yang berbasis di AS mencatat sedikitnya 2.571 orang tewas, sementara sumber-sumber internal Iran yang dikutip media internasional memperkirakan angka tersebut bisa melampaui 12.000 korban.
Seorang pejabat Iran sendiri mengakui sekitar 2.000 kematian, menjadi pengakuan resmi pertama pemerintah. Lembaga Institute for the Study of War menilai respons rezim Iran sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya” dalam tingkat kebrutalannya, melampaui korban protes 2019 yang menewaskan sekitar 1.500 orang.
Opsi Militer Disiapkan
Menurut laporan media AS, Trump dalam beberapa hari terakhir telah menerima paparan opsi militer, termasuk kemungkinan serangan ke target non-militer di Teheran. Ia disebut meminta langkah yang “memberikan pukulan menentukan” tanpa menyeret Amerika Serikat ke konflik berkepanjangan. United States Central Command dilaporkan telah menyiapkan rencana serangan yang kini menunggu persetujuan presiden.
Ketegangan Regional Kian Tinggi
Di tengah eskalasi, Pentagon mulai mengevakuasi sebagian personel dari pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah yang berlokasi di Qatar. Seorang pejabat senior Iran memperingatkan bahwa Teheran akan membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di negara sekutu, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, jika serangan terjadi. Iran juga sempat menutup ruang udaranya pada Rabu malam di tengah kekhawatiran eskalasi.
Krisis ini terjadi sekitar enam bulan setelah Operasi Midnight Hammer, ketika AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Iran membalas dengan serangan ke pangkalan udara AS di Qatar sebelum akhirnya kembali ke meja perundingan nuklir.
