WASHINGTON DC, AS – Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menyetujui sementara operasi pasukan keamanan internal milik Hamas di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan di tengah gencatan senjata rapuh yang dimulai sejak Jumat (10/10/2025), sebagai langkah darurat untuk mencegah kekosongan keamanan dan aksi penjarahan di wilayah yang porak-poranda akibat perang berkepanjangan.
Menurut Trump, persetujuan ini diberikan atas permintaan Hamas untuk menstabilkan situasi di lapangan, di mana hampir 2 juta warga Gaza berusaha kembali ke rumah-rumah yang hancur.
Langkah ini menjadi bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan Trump untuk mengakhiri konflik dua tahun antara Israel dan Hamas, dengan syarat utama bahwa kelompok militan tersebut harus melucuti senjata dan menyerahkan kendali atas Gaza.
Dalam wawancara singkat di atas Air Force One saat menuju Israel, Trump menekankan urgensi menjaga ketertiban.
“Mereka memang ingin menghentikan masalah, dan mereka telah terbuka tentang hal tersebut, dan kami memberikan mereka persetujuan untuk periode waktu tertentu,” kata Trump menjawab pertanyaan wartawan, seperti dikutip Reuters pada Senin (13/10/2025).
Gencatan senjata yang baru berusia tiga hari ini telah memicu kekhawatiran akan kekosongan kekuasaan di Gaza, di mana sebagian besar infrastruktur sipil telah rata dengan tanah. Hamas, yang menguasai wilayah tersebut sejak 2007, segera mengerahkan pasukan keamanannya di berbagai titik strategis seperti Gaza City dan Khan Younis di selatan.
Tujuannya, menurut pernyataan resmi, adalah menekan pelanggaran hukum, termasuk penjarahan bantuan kemanusiaan yang marak sejak awal konflik.
Namun, operasi ini tidak luput dari kontroversi. Laporan menyebutkan bentrokan sengit antara pasukan Hamas dengan anggota klan lokal di Gaza City selama dua hari terakhir, termasuk insiden penembakan terhadap rival yang diduga bergabung dengan geng-geng kriminal.
Kementerian Dalam Negeri Hamas merespons dengan mengeluarkan fatwa pengampunan pada Minggu (12/10/2025), menawarkan kesempatan bagi pelaku pencurian bantuan untuk menyerah diri dengan syarat tidak ada keterlibatan dalam kekerasan berdarah.
Trump sendiri tampak optimis meski mengakui ketidakpastian. “Hampir 2 juta orang kembali ke gedung-gedung yang telah dihancurkan, dan banyak hal buruk bisa terjadi. Jadi kita menginginkan semuanya kita menginginkan semuanya aman. Saya pikir semuanya akan baik-baik saja. Siapa yang tahu pasti,” ujarnya, menambahkan nada harapan di tengah situasi yang tegang.
Para analis internasional memandang persetujuan sementara ini sebagai manuver diplomatik Trump untuk membuka jalan bagi negosiasi lebih lanjut. Rencana perdamaiannya menuntut Hamas tidak hanya melucuti senjata, tapi juga membuka Gaza untuk rekonstruksi di bawah pengawasan internasional.
Sementara itu, Israel menyambut kunjungan Trump dengan harapan dukungan lebih kuat, meski gencatan senjata ini masih rapuh dan berpotensi runtuh kapan saja.
Konflik Israel-Hamas yang meletus dua tahun lalu telah menewaskan puluhan ribu jiwa dan menggusur jutaan warga, menjadikan Gaza sebagai salah satu zona perang paling mematikan di Timur Tengah.
Dengan persetujuan keamanan internal ini, Trump berharap bisa mencegah eskalasi baru, sambil memperkuat posisinya di panggung global menjelang isu pemilu AS mendatang.
Perkembangan terbaru ini terus dipantau oleh PBB dan organisasi kemanusiaan, yang mendesak akses bebas untuk bantuan darurat.