JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia setelah mengunggah foto hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya mengenakan jubah kepausan. Unggahan ini diposting di platform Truth Social pada Jumat malam, 2 Mei 2025, hanya beberapa hari setelah ia menghadiri pemakaman Paus Fransiskus yang meninggal dunia pada 21 April 2025 akibat stroke di usia 88 tahun.
Aksi kontroversial ini memicu gelombang kemarahan di media sosial, terutama dari umat Katolik, menjelang konklaf pemilihan paus baru pada 7 Mei 2025.
Foto AI Trump Jadi Paus: Provokasi atau Candaan?
Dalam gambar yang diunggah, Trump tampak duduk dengan ekspresi serius di kursi megah, mengenakan jubah putih khas paus, lengkap dengan hiasan kepala dan salib emas. Jari telunjuk kanannya terangkat, seolah meniru gestur khas pemimpin Gereja Katolik. Unggahan ini semakin viral setelah akun resmi Gedung Putih mengunggah ulang gambar tersebut di X, memicu reaksi beragam dari warganet.
Banyak yang mengecam tindakan Trump sebagai bentuk ketidaksensifan, mengingat dunia masih berduka atas kepergian Paus Fransiskus. Seorang pengguna X menulis, “Trump memang dikenal provokatif, tapi ini keterlaluan. Dunia Katolik sedang berduka, dan dia malah bercanda jadi paus.” Kritik juga datang dari kelompok Republikan anti-Trump, yang menyebut diri mereka sebagai “kaum konservatif pro-demokrasi.” Mereka menilai unggahan ini sebagai tindakan megalomania yang tidak pantas.
Namun, pendukung Trump justru memuji aksi ini sebagai candaan kreatif. “Dia cuma bercanda, kenapa harus dibesar-besarkan? Ini kan era AI, santai saja!” tulis seorang pendukung di Truth Social. Trump sendiri sempat melontarkan candaan soal keinginannya menjadi paus saat ditanya tentang penerus Paus Fransiskus. “Saya ingin menjadi paus, itu akan menjadi pilihan nomor satu saya,” ujarnya, seperti dikutip Associated Press pada 4 Mei 2025. Ia juga menyebut Kardinal Timothy Dolan dari New York sebagai kandidat potensial, meski tanpa preferensi kuat.
Konteks Sensitif: Duka Paus Fransiskus dan Konklaf 2025
Pemakaman Paus Fransiskus pada 26 April 2025 di Lapangan Santo Petrus dihadiri oleh Trump bersama Ibu Negara Melania Trump dan sejumlah pemimpin dunia, termasuk mantan Presiden Indonesia Joko Widodo yang mewakili Presiden Prabowo Subianto. Kematian Paus Fransiskus meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik global, dan konklaf mendatang menjadi momen krusial untuk menentukan pemimpin baru Gereja Katolik.
Analis politik menilai unggahan Trump sebagai upaya mencuri perhatian di tengah peristiwa besar. “Trump selalu ingin jadi pusat perhatian. Tapi kali ini, ia salah langkah karena menyentuh isu sensitif,” kata seorang pengamat media sosial. Tindakan ini juga dianggap berisiko merusak hubungan diplomatik AS dengan Vatikan, yang selama ini terjalin erat.
Reaksi Global dan Dampak di Media Sosial
Unggahan Trump langsung menjadi trending topic di X, dengan lebih dari 37.600 likes dan 2.444 komentar dalam hitungan jam. Banyak warganet menyuarakan kekecewaan, menyebut tindakan ini tidak menghormati nilai-nilai keagamaan. Seorang pengguna X menulis, “Ini bukan soal politik, tapi soal rasa hormat. Trump seharusnya tahu batas.” Sementara itu, beberapa meme dan parodi bermunculan, memperkuat viralitas kontroversi ini.
Di sisi lain, unggahan ini juga memicu diskusi tentang etika penggunaan AI di ranah publik. Gambar buatan AI semakin sering digunakan untuk tujuan politik atau hiburan, tetapi tanpa batasan jelas, hal ini bisa memicu konflik. “AI adalah alat, tapi cara penggunaannya mencerminkan niat. Trump jelas ingin memancing reaksi,” ujar seorang pakar teknologi.
Apa Selanjutnya untuk Trump?
Kontroversi ini menambah daftar panjang aksi Trump yang memicu perdebatan, mulai dari kebijakan politik hingga gaya komunikasinya yang nyentrik. Dengan konklaf yang semakin dekat, dunia kini menunggu apakah Trump akan memberikan pernyataan resmi atau justru melanjutkan provokasi. Yang jelas, unggahan ini telah mempertegas citra Trump sebagai figur yang tak pernah lepas dari sorotan.