JAKARTA – Satu minggu setelah dimulainya perang AS-Israel melawan Iran, Presiden Donald Trump menghadapi daftar risiko yang semakin panjang. Meski keberhasilan militer sempat ditunjukkan lewat pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan serangan besar terhadap pasukan Iran, konflik dengan cepat meluas menjadi krisis regional yang berpotensi menyeret AS dalam keterlibatan berkepanjangan.
Selama dua masa jabatannya, Trump kerap menghindari operasi militer jangka panjang, lebih memilih serangan terbatas seperti operasi kilat di Venezuela pada Januari 2023 dan serangan tunggal ke situs nuklir Iran pada Juni. Namun, kali ini ia justru menghadapi perang yang oleh banyak analis disebut sebagai “kampanye militer yang kacau dan berpotensi berkepanjangan.”
“Iran adalah kampanye militer yang kacau dan berpotensi berkepanjangan,” kata Laura Blumenfeld dari Johns Hopkins School for Advanced International Studies, dilansir dari Reuters, Sabtu (7/3/2026). “Trump mempertaruhkan ekonomi global, stabilitas regional, dan kinerja Partai Republiknya sendiri dalam pemilihan paruh waktu AS.”
Operasi Epic Fury, yang disebut sebagai operasi militer terbesar AS sejak invasi Irak 2003, dinilai belum memiliki tujuan akhir yang jelas. Gedung Putih melalui juru bicara Anna Kelly menegaskan Trump telah menetapkan sasaran: “menghancurkan rudal balistik dan kapasitas produksi Iran, menghancurkan angkatan laut mereka, mengakhiri kemampuan mereka untuk mempersenjatai proksi, dan mencegah mereka memperoleh senjata nuklir.”
Meski demikian, risiko politik tetap membayangi. Jika perang berlarut-larut, korban jiwa meningkat, dan aliran minyak Teluk terganggu, dampaknya bisa merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu.
Dukungan Basis MAGA
Gerakan Make America Great Again sejauh ini masih mendukung Trump, meski sebagian pendukung menentang intervensi militer. “Rakyat Amerika tidak tertarik mengulangi kesalahan Irak dan Afghanistan,” kata Brian Darling, ahli strategi Partai Republik. “Basis pendukung MAGA terpecah antara mereka yang mengandalkan janji tidak akan ada perang baru dan mereka yang setia pada penilaian Trump.”
Salah satu kekhawatiran utama adalah pesan yang simpang siur dari Trump dan para pembantunya mengenai tujuan akhir perang. Pada awal konflik, ia sempat menyebut “perubahan rezim” di Teheran sebagai target, namun dua hari kemudian hal itu tidak lagi disebut sebagai prioritas.