JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyuarakan keinginannya untuk relokasi warga Palestina dari Gaza ke wilayah yang dianggap lebih aman.
Donald Trump juga mengumumkan rencana pertemuan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Washington dalam waktu dekat.
Pernyataan ini muncul setelah lebih dari 15 bulan konflik antara Israel dan Hamas yang menyebabkan Gaza menjadi hamparan puing.
Trump sebelumnya mengusulkan ide untuk membebaskan Gaza dari konflik berkepanjangan.
“Saya ingin mereka tinggal di tempat di mana mereka bisa hidup tanpa gangguan, tanpa revolusi, tanpa kekerasan,” ujar Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, dikutip dari RTE, Selasa (28/01/2025).
Trump menyebut Gaza telah menjadi “neraka” selama bertahun-tahun akibat kekerasan yang tak kunjung reda.
Namun, ketika ditanya mengenai dampaknya pada solusi dua negara, ia menegaskan rencananya untuk bertemu Netanyahu.
“Dia akan datang ke sini untuk bertemu dengan saya,” tambah Trump.
Saat ini, lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza telah mengungsi akibat perang yang dipicu oleh serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Dua negara yang aman menurut Trump untuk pengungsi Palestina yakni Mesir atau Yordania.
Trump sudah menjalin komunikasi dengan Raja Abdullah II dari Yordania dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi—dua pemimpin yang selama ini menentang pemindahan warga Palestina.
Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa kedua pemimpin tersebut akan membantu.
“Saya harap dia (Presiden Mesir) akan menerima beberapa dari mereka. Kami telah banyak membantu Mesir, dan saya yakin dia juga akan membantu kami,” kata Trump.
Saat ini, gencatan senjata selama enam minggu sedang berlangsung, memungkinkan pembebasan 33 sandera yang ditahan di Gaza sebagai imbalan atas sekitar 1.900 tahanan Palestina.
Fase kedua negosiasi sedang dirancang untuk membebaskan sisa sandera dan mengakhiri konflik secara permanen.
Tahap terakhir akan mencakup rekonstruksi Gaza dan pengembalian jenazah sandera yang meninggal selama masa penahanan.
Namun, berbeda dengan rencana pemerintahan Joe Biden untuk pasca-perang Gaza, Trump belum memberikan rincian rencana strategisnya.***