TEHERAN, IRAN – Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah meminta negosiasi untuk mencapai gencatan senjata di tengah konflik terbuka yang telah memasuki hari ke-16. Namun, klaim mengejutkan dari pemimpin AS itu langsung mendapat bantahan keras dan telak dari Teheran.
Dalam wawancara telepon dengan NBC News, Trump mengindikasikan bahwa ada sinyal perdamaian dari pihak Iran, namun ia mengaku belum siap menerimanya karena persyaratan yang diajukan dinilai belum menguntungkan.
“Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak ingin membuatnya karena persyaratannya belum cukup baik,” kata Trump kepada NBC News .
Saat ditanya lebih lanjut mengenai persyaratan apa yang ia inginkan untuk mengakhiri perang, Trump menjawab diplomatis, “Saya tidak ingin mengatakan itu kepada Anda.” Meski demikian, ia setuju bahwa komitmen dari Iran untuk sepenuhnya meninggalkan ambisi nuklirnya akan menjadi bagian penting dari setiap kesepakatan potensial .
Namun, klaim yang dilontarkan Trump tersebut sontak dipatahkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam wawancara eksklusif dengan program “Face The Nation” milik CBS yang ditayangkan Minggu (15/3/2026), Araghchi dengan tegas membantah telah meminta negosiasi atau gencatan senjata. Ia justru menegaskan bahwa Iran akan terus melanjutkan perlawanan.
“Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya membela rakyat kami,” tegas Araghchi kepada CBS . “Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami. Tidak ada pengalaman baik berbicara dengan Amerika,” sesalnya dalam wawancara tersebut .
Lebih lanjut, Araghchi menegaskan bahwa pernyataan Trump sama sekali tidak berdasar. “Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi,” imbuhnya .
Komunikasi Rahasia atau Perang Narasi?
Kontradiksi ini semakin kompleks dengan laporan dari *Axios* yang mengutip sumber pejabat AS. Menurut laporan tersebut, saluran komunikasi langsung antara utusan AS Steve Witkoff dan Menlu Araghchi memang telah diaktifkan kembali dalam beberapa hari terakhir . Seorang pejabat AS bahkan mengklaim bahwa Araghchi-lah yang memulai kontak dengan Witkoff melalui pesan teks yang berfokus pada upaya mengakhiri perang .
Namun, klaim ini kembali dibantah mentah-mentah oleh Araghchi. Melalui akun X-nya, ia menegaskan bahwa kontak terakhir dengan Witkoff terjadi sebelum serangan militer AS dimulai. “Klaim yang sebaliknya tampaknya hanya bertujuan untuk menyesatkan para pedagang minyak dan publik,” tulis Araghchi .
Araghchi menambahkan, Iran saat ini hanya siap untuk berbicara dengan negara-negara tertentu yang ingin bernegosiasi terkait jalur aman kapal tanker minyak di Selat Hormuz. “Saya tidak dapat menyebutkan negara tertentu, tetapi kami telah didekati oleh sejumlah negara yang ingin memiliki jalur aman untuk kapal mereka,” katanya .
Update Korban Perang Hari ke-16
Di tengah polemik negosiasi tersebut, perang antara koalisi AS-Israel dan Iran terus memakan korban jiwa. Perang ini dipicu oleh serangan udara gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu yang menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Memasuki hari Senin (16/3/2026) atau hari ke-16 konflik, jumlah korban tewas terus bertambah. Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 1.400 orang dilaporkan tewas di Iran . Di pihak Israel, sebanyak 15 orang tewas, sementara Amerika Serikat kehilangan 13 tentaranya . Konflik yang meluas juga menewaskan sedikitnya 19 orang di negara-negara Arab Teluk, dan angka paling tragis terjadi di Lebanon dengan sekitar 850 orang tewas akibat eskalasi di perbatasan .
Perang yang telah berlangung lebih dari dua pekan ini menunjukkan bahwa upaya diplomatik masih menemui jalan buntu, dengan kedua pihak saling bertolak belakang dalam narasi perdamaian.