WASHINGTON, DC, AS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian global usai mengumumkan kebijakan tarif resiprokal yang mulai berlaku serentak pada Rabu (9/4/2025) waktu AS.
Keputusan ini langsung memicu reaksi dari lebih dari 50 negara yang berlomba-lomba menghubungi Gedung Putih untuk memulai negosiasi dagang.
Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, mengungkapkan bahwa puluhan negara kini justru memilih untuk berunding, meski sebelumnya sempat bersiap melakukan aksi balasan atas kebijakan Trump.
“Jadi faktanya, beberapa negara marah dan membalas, ngomong-ngomong, mau ke meja perundingan,” ujar Hassett dalam wawancara eksklusif dengan ABC News.
Menurut Hassett, hingga Sabtu malam (5/4/2025) waktu setempat, jumlah negara yang menghubungi Trump untuk membuka jalur diplomasi perdagangan telah melewati angka 50. Mereka, kata Hassett, mulai menyadari konsekuensi dari tarif tinggi yang akan diterapkan.
“Jadi saya kira Anda tak akan melihat dampak besar bagi konsumen di AS, karena saya kira, alasan mengapa kita mengalami defisit perdagangan jangka panjang yang terus-menerus adalah orang-orang ini tidak mendapat pasokan yang elastis,” jelasnya.
Sikap keras Trump terhadap mitra dagang AS ini ditegaskannya kembali dalam pertemuan bersama para investor. Ia mengklaim kebijakan tarif ini akan membawa AS kembali menjadi kekuatan ekonomi dunia.
“Bagi banyak investor yang datang ke AS dan menginvestasikan sejumlah besar uang, kebijakan saya tidak akan pernah berubah. Ini adalah waktu yang tepat untuk menjadi kaya, lebih kaya dari sebelumnya,” kata Trump dengan penuh percaya diri.
Meski pasar saham global terguncang dan investor dunia mulai menunjukkan kecemasan, Trump bergeming. Baginya, guncangan itu hanyalah efek samping dari transformasi ekonomi besar yang sedang dibangunnya.
“Kebijakan tersebut tidak akan pernah berubah meski pasar saham global anjlok setelah dia mengumumkan tarif baru,” ujar Trump menutup pernyataannya.
Langkah kontroversial ini menandai babak baru dalam kebijakan proteksionisme AS, yang sekali lagi menempatkan Trump sebagai aktor utama dalam percaturan ekonomi internasional.
