FLORIDA, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer besar-besaran terhadap Iran hampir mencapai titik akhir. Dalam wawancara eksklusif dengan CBS News, Senin (9/3/2026) waktu setempat, Trump mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah lumpuh total akibat gempuran yang dilancarkan sejak akhir Februari.
“Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya,” ujar Trump dalam wawancara telepon dari klub golfnya di Doral, Florida, seperti dikutip Reuters, Selasa (10/3/2026).
Trump merinci kehancuran yang dialami Iran pasca serangan gabungan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu. Ia menegaskan bahwa target-target strategis negeri para Mullah berhasil dihancurkan, jauh melampaui ekspektasi awal pemerintahannya.
“Mereka tidak memiliki angkatan laut, tidak ada komunikasi, mereka tidak memiliki angkatan udara. Rudal-rudal mereka tinggal sedikit. Drone-drone mereka dihancurkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone mereka,” klaim mantan presiden yang kini kembali menjabat itu.
Militer AS sebelumnya mengonfirmasi bahwa dalam pekan pertama operasi “Operation Epic Fury”, lebih dari 3.000 target di wilayah Iran telah diserang. Trump menyebut progres ini jauh lebih cepat dari perkiraan awalnya yang mengasumsikan perang akan berlangsung selama empat hingga lima pekan.
“Jika Anda lihat, mereka tidak memiliki apa pun yang tersisa. Tidak ada yang tersisa dalam artian militernya,” tegas Trump kepada wartawan CBS News, Weijia Jiang.
“Soal jadwal, kita sangat jauh lebih cepat,” tambahnya.
Namun, ketika ditanya mengenai kapan tepatnya konflik ini akan berakhir, Trump memberikan pernyataan yang ambigu. “Berakhirnya perang itu hanya ada di pikiran saya, bukan pikiran orang lain,” jawabnya.
Di tengah gencarnya serangan, Trump juga enggan berkomentar banyak mengenai pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang baru saja menggantikan posisi ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei.
“Saya tidak punya pesan untuknya. Sama sekali tidak,” ujar Trump singkat.
Meski demikian, Trump mengisyaratkan bahwa dirinya memiliki kandidat lain untuk memimpin Iran, namun enggan membeberkan lebih lanjut. Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa pemerintahan Trump “tidak senang” dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai penerus di Tehran.