JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memulai perang pertama pada era yang disebutnya “Board of Peace” dengan melancarkan serangan militer bersama Israel terhadap Iran. Aksi ini digambarkan sebagai upaya perubahan rezim tanpa dasar hukum, dilakukan di tengah upaya diplomatik, serta tanpa konsultasi memadai dengan Kongres maupun publik Amerika.
Dalam pidato rekaman berdurasi delapan menit, Trump menegaskan serangan bukan sekadar tekanan terbatas. Ia memperingatkan bahwa jika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak menyerah, mereka akan dibunuh, sementara angkatan bersenjata, rudal, dan angkatan laut Iran akan dihancurkan. “Dengan demikian, jalan akan terbuka bagi oposisi Iran dan kelompok-kelompok etnis minoritas di negara itu untuk bangkit dan menggulingkan rezim,” ujarnya, dilansir dari The Guradian, Sabtu (28/2/2026).
Trump menambahkan, “Sudah saatnya seluruh rakyat Iran—Persia, Kurdi, Azeri, Balochi, dan Akhvakh—melepaskan diri dari beban tirani dan menghadirkan Iran yang merdeka serta mencintai perdamaian.”
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya bergabung dalam perang “untuk menghapus ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh rezim teroris di Iran.”
Serangan ini menimbulkan keraguan atas negosiasi AS-Iran terkait pembatasan pengayaan uranium. Trump, yang sebelumnya mengkritik perang Irak dan mengklaim mengakhiri delapan konflik, kini justru memimpin konfrontasi baru.
Langkah Trump dinilai sebagai pelanggaran Piagam PBB karena tidak ada ancaman kredibel dari Iran. Senator Demokrat, Chuck Schumer menyatakan kekhawatiran atas tindakan presiden, sementara pakar International Crisis Group, Ali Vaez memperingatkan potensi eskalasi. “Pihak Iran telah sampai pada kesimpulan bahwa sikap menahan diri ditafsirkan sebagai kelemahan dan justru mengundang agresi lebih lanjut,” katanya.
Dengan dukungan publik yang minim terhadap perang baru di Timur Tengah, Trump disebut bertaruh besar pada keberhasilan spektakuler. Namun, sejarah menunjukkan sulitnya menumbangkan rezim mapan hanya dengan bombardir udara, sementara Iran diprediksi akan melancarkan serangan balasan maksimal.