JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran, setelah sebelumnnya memerintahkan pengerahan besar-besaran armada angkatan laut ke Timur Tengah. Langkah ini disebtu sebagai upaya menekan Teheran agar menyepakati pembatasan program nuklirnya.
Ancaman terbaru muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan draf proposal kesepakatan dengan Washington akan siap dalam beberapa hari, menyusul perundingan di Jenewa awal pekan ini. Trump sendiri mengisyaratkan bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika Iran tidak mencapai kesepakatan dalam 10 hingga 5 hari.
Dalam wawancara dengan media AS, Araghchi menegaskan bahwa pihaknya tidak diminta menghentikan program pengayaan nuklir. “Kami belum menawarkan penangguhan apa pun, dan pihak AS belum meminta pengayaan nol,” ujarnya, sebagaiman dilansir dari Hurriyet Daily News, Sabtu (21/2/2026). Ia menambahkan pembicaraan difokuskan pada jaminan bahwa program nuklir Iran bersifat damai.
Komentar tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Trump dan sejumlah pejabat tinggi AS yang menegaskan Iran tidak boleh diizinkan memperkaya uranium. Sementara itu, Teheran menekankan haknya melakukan pengayaan untuk tujuan sipil, sembari menegosiasikan pencabutan sanksi yang menekan perekonomian.
Ketegangan meningkat setelah Washington mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan Gerald Ford ke Teluk, sementara angkatan laut Iran menggelar latihan di sekitar Selat Hormuz. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani memperingatkan bahwa pangkalan dan aset militer AS akan menjadi “target sah” jika ancaman serangan benar-benar dilakukan.
Meski demikian, Araghchi menolak anggapan adanya ultimatum. “Kami hanya berbicara satu sama lain tentang bagaimana kami bisa mencapai kesepakatan dengan cepat. Dan kesepakatan cepat adalah sesuatu yang diinginkan kedua belah pihak,” katanya.