NEW YORK, AS – Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 menuai pujian gemilang dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump menyebut orasi Prabowo sebagai “extraordinary” atau luar biasa, yang langsung menjadi sorotan global.
Analisis pakar hubungan internasional menyoroti makna mendalam di balik apresiasi Trump, termasuk kekaguman terhadap gaya penyampaian dan substansi pidato yang menyentuh isu kemanusiaan serta keadilan dunia.
Sidang Umum PBB ke-80 yang digelar di New York, Amerika Serikat, menjadi panggung bagi para pemimpin dunia untuk membahas tantangan global.
Prabowo, yang tampil sebagai pembicara ketiga setelah Presiden Brasil dan Presiden AS, menyampaikan pidato berdurasi 19 menit dengan tema “Seruan Indonesia untuk Harapan”. Dalam orasinya, ia menekankan solidaritas internasional, keadilan global, serta solusi dua negara untuk konflik Palestina-Israel.
Pidato ini tidak hanya menggambarkan sejarah kolonialisme Indonesia, tapi juga kritik konstruktif terhadap kinerja PBB, dengan menyoroti peran Indonesia sebagai kontributor utama pasukan perdamaian PBB yang siap mengerahkan ribuan personel.
Pujian Trump terhadap pidato Prabowo langsung ramai dibicarakan di media internasional, terutama setelah ia menyatakan kekagumannya via media sosial.
Menurut Teuku Rezasyah, pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad), ada lapisan strategis di balik respons positif Trump. Rezasyah menjelaskan bahwa Trump terkesan dengan struktur pidato yang rapi, filosofis, dan mudah dipahami audiens global.
“Kekaguman Donald Trump terjadi karena naskah pidato Presiden Prabowo Subianto dibuat secara sistematis dan filosofis, dalam bahasa Inggris yang mudah dimengerti oleh publik,” ujar Rezasyah.
Lebih lanjut, pakar itu menambahkan bahwa Prabowo berhasil “menghanyutkan” pendengar dengan penguasaan materi yang mendalam. “Donald Trump juga mengagumi figur Presiden Prabowo yang sangat menguasai substansi pidato tersebut, dan menghanyutkan publik karena merasa aspirasi mereka terwakili oleh pandangan Presiden Prabowo,” tambahnya.
Trump, yang dikenal kritis tajam terhadap PBB, tampaknya terpikat oleh cara Prabowo mengintegrasikan nilai-nilai filosofis Barat dan Timur ke dalam narasi kontemporer.
Rezasyah menyoroti bagaimana pidato itu menghubungkan kutipan dari Deklarasi Kemerdekaan AS dengan realitas penindasan di Palestina, serta menekankan semangat Piagam PBB.
“Trump juga mengagumi kualitas pidato Presiden Prabowo, yang banyak menyitir filsafat dan nilai-nilai rohaniah dari Barat dan Timur, serta menghubungkannya dengan kenyataan masa kini yang bertolak belakang,” jelas Rezasyah.
Perbedaan pendekatan antara keduanya juga menjadi poin menarik. Sementara Trump sering menyampaikan kritik yang “merendahkan” terhadap lembaga multilateral seperti PBB, Prabowo memilih nada membangun yang didukung data empiris dari berbagai wilayah konflik.
“Jika Trump memberikan kritik secara merendahkan, Prabowo membawa kritik yang membangun, disertai bukti-bukti nyatanya yang terbukti di berbagai kawasan,” kata Rezasyah.
Selain itu, Rezasyah mengungkap bahwa apresiasi Trump bukanlah hal baru. Kesan positif ini sudah terbentuk sejak panggilan telepon keduanya pada 2023. Namun, ada elemen “cemburu” dari Trump terhadap jaringan diplomatik Prabowo yang luas, termasuk hubungan erat dengan pemimpin seperti Vladimir Putin dari Rusia dan Xi Jinping dari China. Contohnya, kehadiran Prabowo di parade militer China meski Indonesia sedang menghadapi krisis domestik.
“Kesan positif sebenarnya telah Trump buat, saat keduanya bertelepon tahun 2023. Juga Trump cemburu pada Prabowo, yang memiliki hubungan dekat dan tulus dengan para tokoh dunia, yang justru tidak akrab dengan Trump,” ungkap Rezasyah.
“Terlihat betapa akrabnya mereka (dalam parade militer China). Juga mereka mengakui komitmen besar Presiden Prabowo untuk hadir, di tengah beratnya krisis domestik yang sedang dihadapi Indonesia,” lanjutnya.
Dampak pidato Prabowo dinilai Rezasyah sangat luas, memperkuat citra Indonesia di mata dunia. Pidato ini memposisikan Prabowo sebagai figur pemersatu lintas wilayah dan peradaban, yang mampu menangani isu global dengan pendekatan berbasis hukum internasional.
“Dampak pidato tersebut sangat besar bagi dunia. Presiden Prabowo semakin dikenal sebagai figur pemersatu lintas kawasan dan lintas peradaban, serta diperkirakan mampu menangani masalah-masalah genting dunia. Termasuk membantu penyelesaian masalah tersebut secara beradab dan berbasis hukum internasional,” tegas Rezasyah.
Dalam pidatonya, Prabowo juga berbagi pengalaman pribadi Indonesia sebagai korban kolonialisme, yang resonan dengan audiens.
“Negara saya merasakan kepedihan ini. Selama berabad-abad, rakyat Indonesia hidup di bawah penjajahan, penindasan, dan perbudakan. Kami diperlakukan lebih rendah daripada hewan,” kutip Rezasyah dari teks pidato Prabowo, yang menekankan empati terhadap penderitaan Palestina.
Reaksi positif Trump ini berpotensi membuka peluang kerja sama bilateral Indonesia-AS di masa depan, terutama dalam isu perdamaian global dan keamanan regional.
Pidato Prabowo di PBB tidak hanya menegaskan komitmen Indonesia terhadap multilateralisme, tapi juga memperkuat posisi Jakarta sebagai suara moderat di panggung internasional.
Hingga kini, pujian Trump terus menjadi topik hangat di kalangan analis politik, menandakan pengaruh diplomasi Prabowo yang kian meluas.