WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan kritik pedas terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, menyebutnya sebagai sosok yang keras kepala dalam upaya menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama 3,5 tahun.
Dalam wawancara eksklusif dengan Newsmax di Gedung Putih, Jumat (1/8/2025), Trump menegaskan bahwa sikap Putin yang tak kunjung berubah menjadi hambatan utama menuju perdamaian.
“Dia jelas keras kepala. Tidak ada perubahan dalam hal itu,” kata Trump, menjawab pertanyaan pembawa acara Rob Finnerty tentang perubahan karakter Putin dalam beberapa bulan terakhir, seperti dilansir Sputnik, Sabtu (2/8/2025).
Trump juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap minimnya kemajuan dalam negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina. Ia menegaskan bahwa AS akan memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia pada pekan depan, meskipun ia meragukan efektivitasnya terhadap perekonomian Rusia yang dinilainya tetap tangguh.
“Saya lebih tahu dibandingkan siapa pun tentang sanksi, tarif, dan hal-hal lain. Saya tidak tahu apakah itu berpengaruh,” ujar Trump.
Pernyataan Trump ini mencerminkan ketegangan yang kian memanas antara Washington dan Moskow. Sebelumnya, Trump telah mengancam akan menerapkan tarif impor hingga 100 persen bagi negara-negara yang membeli minyak Rusia, sebagai bagian dari tekanan agar Putin menyetujui gencatan senjata dalam waktu 10–12 hari.
Namun, Rusia menanggapi keras ancaman ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, memperingatkan bahwa sanksi baru justru akan memperburuk hubungan bilateral dan menjauhkan peluang perdamaian.
Konflik Rusia-Ukraina sendiri terus menjadi sorotan dunia, dengan dampak geopolitik yang luas. Tekanan Trump ini muncul di tengah desakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kepada negara-negara Barat untuk menggulingkan pemerintahan Putin guna mengakhiri perang.
“Saya yakin Rusia bisa didesak untuk menghentikan perang ini. Tapi jika dunia tidak melakukan upaya mengubah rezim di Rusia, ini berarti, bahkan setelah perang berakhir, Rusia tetap berusaha untuk mengganggu stabilitas negara-negara tetangga,” kata Zelensky dalam pidato virtualnya di konferensi peringatan 50 tahun Perjanjian Helsinki, seperti dikutip RT, Sabtu (2/8/2025).
Sementara itu, Rusia tetap bergeming. Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia, Dmitry Medvedev, menyebut ancaman Trump sebagai tindakan yang justru dapat memicu ketegangan lebih lanjut, bahkan memperingatkan risiko eskalasi hingga ke ambang Perang Dunia III.