JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dikabarkan siap mengakhiri perang dengan Iran meski Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, masih tertutup. Laporan The Wall Street Journal pada Senin (30/3/2026) yang dilansir Turkiyetoday, menyebut, Trump dan para penasihatnya menilai operasi militer untuk membuka kembali selat tersebut akan memperpanjang konflik melebihi target waktu emapt hingga enam minggu.
Sebagai gantinya, Washington akan fokus melumpuhkan kemampuan angkatan laut dan rudal Iran, sembari menekan Teheran melalui jalur diplomatik agar perdagangan bebas di selat tersebut kembali berjalan. Jika upaya diplomasi gagal, AS akan mengandalkan sekutu Eropa dan Teluk untuk memimpin pembukaan kembali jalur air strategis itu.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan, “Amerika Serikat sedang berupaya untuk memulihkan operasi normal di selat tersebut.”
Iran Pertimbangkan Tarif Tol Baru
Di sisi lain, parlemen Iran melalui Komisi Keamanan Nasional menyetujui rancangan aturan yang mewajibkan kapal membayar biaya transit dalam mata uang rial. RUU tersebut juga melarang kapal terkait AS dan Israel melewati Selat Hormuz, serta membatasi akses bagi negara-negara yang menerapkan sanksi sepihak terhadap Iran.
Gangguan Perdagangan Energi Global
Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Eskalasi ini telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta memicu lonjakan harga minyak dan gangguan penerbangan internasional.