WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapannya melancarkan operasi militer di Meksiko untuk memutus rantai perdagangan narkoba sekaligus membuka pintu pembicaraan dengan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, di tengah eskalasi kehadiran militer AS terbesar di Karibia dalam puluhan tahun terakhir.
Dalam jumpa pers di Oval Office pada Senin (17/11), Trump menegaskan sikap kerasnya terhadap kartel narkoba.
“Tidak masalah bagi saya, apa pun yang harus kita lakukan untuk menghentikan narkoba,” ujar Trump saat ditanya wartawan soal kemungkinan serangan ke Meksiko. Ia juga mengaku “tidak senang dengan Meksiko”, namun enggan memastikan apakah akan memberi tahu pemerintah Meksiko terlebih dulu sebelum tindakan militer dilakukan.
Kapal Induk Supercarrier Gerald R. Ford Masuk Karibia
Pernyataan kontroversial itu bersamaan dengan masuknya kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford – kapal perang tercanggih di dunia – ke Laut Karibia pada Minggu (16/11). Membawa lebih dari 75 pesawat tempur dan 5.000 personel, kehadiran Gerald R. Ford menjadi bagian dari Operasi Southern Spear yang melibatkan sekitar 15.000 pasukan AS di sekitar Venezuela.
Trump Tak Menutup Pintu Negosiasi dengan Maduro
Meski tekanan militer meningkat, Trump justru memberikan sinyal diplomatik.
“Venezuela ingin berbicara,” katanya pada Minggu malam, seraya menambahkan bahwa ia “berbicara dengan siapa saja”. Ketika ditanya apakah invasi darat ke Venezuela masih menjadi opsi, Trump menjawab tegas:
“Tidak, saya tidak mengesampingkan itu. Saya tidak mengesampingkan apa pun. Kita hanya harus mengurus Venezuela.”
AS Akan Tetapkan Cartel de los Soles sebagai Organisasi Teroris
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengumumkan bahwa mulai 24 November mendatang, Cartel de los Soles – yang oleh pemerintahan Trump diklaim dipimpin langsung oleh Nicolás Maduro – akan resmi ditetapkan sebagai organisasi teroris asing (FTO) oleh Departemen Luar Negeri AS. Maduro membantah keras tuduhan tersebut.
21 Serangan Kapal AS Sejak September, 80 Orang Tewas
Sejak September 2025, militer AS telah melakukan sedikitnya 21 serangan terhadap kapal-kapal mencurigakan di Karibia dan Pasifik timur. Lebih dari 80 orang tewas dalam operasi tersebut. Pemerintah AS menyebut korban sebagai pengedar narkoba, meskipun hingga kini belum merilis bukti publik yang mendukung klaim itu.
Di Caracas, Maduro merespons dengan memobilisasi 200.000 pasukan dan menetapkan status siaga maksimum nasional. Ia tetap menyerukan “perdamaian, perdamaian, perdamaian” sembari menyebut latihan militer AS di Trinidad dan Tobago sebagai tindakan provokatif.
Kritik dari Pakar dan Aktivis HAM
Sejumlah pengamat meragukan narasi resmi Washington bahwa operasi ini murni untuk memerangi narkoba.
Michael Shifter, profesor adjunct Universitas Georgetown, menyatakan, “Mengingat besarnya penumpukan militer AS dan unjuk kekuatan, klaim bahwa tujuannya adalah memerangi narkoba tidak kredibel.”
Sementara itu, Juan Pappier, Wakil Direktur Divisi Amerika Human Rights Watch, menyebut serangan-serangan terhadap kapal sebagai “eksekusi di luar hukum menurut hukum internasional”, terutama karena pejabat AS mengakui tidak mengetahui identitas pasti para korban.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum memberikan jadwal resmi pertemuan Trump-Maduro maupun rencana operasi militer lanjutan di Meksiko atau Venezuela. Ketegangan di kawasan Amerika Latin kini berada di titik tertinggi sejak beberapa dekade terakhir.