JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyoroti kerentanan pertahanan wilayah utara Kanada terhadap potensi ancaman dari Rusia dan China di kawasan Arktik. Menurut pejabat AS yang dikutip NBC News, Trump secara pribadi kerap mengkritik kemampuan Ottawa dalam menjaga perbatasan utaranya, seraya menekankan perlunya peningkatan anggaran pertahanan Kanada.
Dalam diskusi tertutup dengan para ajudannya, Trump menilai Kanada rentan terhadap dugaan pelanggaran dari kekuatan asing di wilayah Arktik yang strategis. “Mereka jelas perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam hal kapabilitas Arktik,” kata seorang pejabat AS. “Status quo tidak cukup,” ujarnya.
Kritik ini muncul seiring upaya Trump untuk memperkuat posisi Amerika Serikat di Arktik, termasuk ambisinya untuk mengakuisisi Greenland sebagai bagian dari strategi keamanan nasional. Pejabat senior pemerintahan Trump menyatakan bahwa tujuan langkah tersebut adalah untuk “memperkuat” kawasan itu di bawah kepemimpinan AS, dengan mengamankan perbatasan utara Kanada sebagai elemen kunci.
“Trump sangat khawatir tentang Amerika Serikat yang terus terombang-ambing di Belahan Bumi Barat dan fokus pada isu ini,” kata seorang pejabat AS kepada NBC News, Senin (19/1/2026).
Berbeda dengan kasus Greenland, tidak ada pembicaraan mengenai pembelian atau aneksasi Kanada, maupun penempatan pasukan AS di sepanjang perbatasan utara. Fokus utama Washington adalah mendorong Kanada meningkatkan kapabilitas pertahanannya sendiri, sekaligus memperdalam kerja sama militer bilateral. Bentuk kerja sama tersebut meliputi pelatihan bersama yang lebih intensif, patroli terkoordinasi, serta modernisasi sistem peringatan dini.
Sebelumnya, pada awal masa jabatan keduanya pada Januari 2025, Trump sempat mengusulkan agar Kanada menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat. Usulan tersebut langsung ditolak oleh Perdana Menteri Kanada saat itu, Justin Trudeau.
Langkah Trump ini memicu kekhawatiran di Kanada, terutama setelah insiden penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta tekanan terhadap Greenland, sebagaimana dilaporkan Bloomberg. Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dalam kunjungan terbarunya ke Beijing, menyatakan bahwa berurusan dengan China terasa “lebih mudah diprediksi” dibandingkan hubungan yang rumit dengan Washington.
Carney juga menegaskan solidaritas Kanada dengan sekutu Eropa. Ia menekankan bahwa masa depan Greenland sepenuhnya merupakan urusan Greenland dan Denmark, serta menyampaikan “keprihatinan” atas ancaman tarif Trump terhadap negara-negara NATO di Eropa yang menolak upaya AS menguasai wilayah tersebut.
Rusia dan China telah menolak narasi Trump. China sebelumnya mengkritik penggunaan isu Greenland sebagai dalih ambisi Arktik Amerika Serikat, sementara Rusia secara konsisten menentang militerisasi kawasan tersebut dan mempromosikannya sebagai zona kerja sama damai.
Isu ini semakin menegaskan ketegangan geopolitik di kawasan Arktik, di mana persaingan pengaruh antara Amerika Serikat, Rusia, dan China terus memanas seiring perubahan iklim yang membuka akses baru terhadap sumber daya alam dan jalur pelayaran strategis.