Amerika Serikat mulai menarik sebagian personel militernya dari pangkalan-pangkalan strategis di Timur Tengah sebagai langkah pencegahan, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Langkah ini diambil setelah Teheran memperingatkan akan menyerang instalasi militer AS apabila Washington melancarkan operasi militer.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi kepada Reuters pada Rabu bahwa penarikan personel tengah dilakukan dari sejumlah pangkalan penting di kawasan. Diplomat yang dikutip Reuters menyebutkan, beberapa personel di Pangkalan Udara Al Udeid—instalasi militer terbesar AS di Timur Tengah dengan sekitar 10.000 personel—disarankan meninggalkan lokasi pada Rabu malam.
Iran Keluarkan Peringatan Keras ke Sekutu AS
Pemindahan pasukan ini menyusul peringatan keras dari Teheran. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya telah memperingatkan sekutu-sekutu Amerika di kawasan—termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki—bahwa pangkalan AS di wilayah mereka akan menjadi sasaran jika Washington melancarkan serangan.
Ancaman tersebut ditegaskan oleh Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, melalui unggahan di platform X. Ia mengingatkan Presiden Donald Trump soal serangan balasan Iran pada Juni lalu, ketika Teheran menembakkan rudal ke Al Udeid setelah serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran.
Saat itu, sebagian besar dari sekitar 11.000 personel AS telah dievakuasi terlebih dahulu, dan hampir seluruh rudal Iran berhasil dicegat sistem pertahanan udara.
Trump Pertimbangkan Opsi Militer
Perkembangan ini terjadi ketika Trump tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran, di tengah gelombang penindasan terhadap demonstrasi nasional di negara tersebut. Aksi protes yang bermula pada akhir Desember akibat keluhan ekonomi telah berkembang menjadi tantangan serius terhadap rezim ulama.
Lembaga pemantau Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan sedikitnya 2.571 orang tewas hingga Rabu, dengan lebih dari 18.100 orang ditahan.
Melalui Truth Social, Trump pada Selasa menyerukan para demonstran Iran untuk “terus berunjuk rasa” dan “mengambil alih institusi kalian”, seraya menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”. Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut bahwa serangan udara merupakan salah satu dari banyak opsi yang tersedia bagi presiden.
Namun, menurut laporan NBC News, sejumlah pejabat Israel dan negara-negara Arab secara tertutup menyarankan Washington untuk menunda serangan besar-besaran. Mereka khawatir intervensi militer justru memicu efek rally around the flag yang dapat memperkuat rezim Iran.