WASHINGTON, AS – Pernyataan kontroversial mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang dunia ekonomi global. Trump menyatakan ogah membayar utang nasional AS yang mencapai USD37,3 triliun atau setara Rp594.000 triliun (kurs Rp15.927 per dolar AS).
Keputusan ini, jika benar-benar direalisasikan, berpotensi merugikan sejumlah negara kreditor, terutama yang memiliki investasi besar dalam obligasi AS.
Dampak Besar bagi Negara Kreditor
Menurut laporan The Balance yang dikutip pada Selasa (15/7/2025), utang AS sebagian besar dipegang oleh investor asing melalui pembelian obligasi pemerintah. “Jepang dan China adalah dua negara yang paling banyak memegang obligasi AS,” tulis laporan tersebut.
Jepang tercatat memiliki obligasi senilai USD1,12 triliun, diikuti China dengan USD816,3 miliar. Negara lain seperti Inggris, Luksemburg, dan Irlandia juga masuk dalam daftar kreditor utama.
Jika Trump menolak membayar utang, negara-negara ini berisiko mengalami kerugian finansial signifikan. Obligasi AS selama ini dianggap sebagai instrumen investasi yang aman, sehingga keputusan ini bisa memicu guncangan di pasar keuangan global.
“Utang AS adalah tulang punggung sistem keuangan dunia. Penolakan pembayaran bisa meruntuhkan kepercayaan investor,” kata analis ekonomi senior, Dr. Emily Carter, dalam wawancara dengan Global Finance Review.
Reaksi Pasar dan Kekhawatiran Global
Pernyataan Trump ini memicu reaksi beragam. Pasar saham Asia dan Eropa dilaporkan mengalami fluktuasi sejak kabar ini mencuat. Indeks Nikkei di Jepang turun 1,2%, sementara bursa Shanghai melemah 0,8% dalam sehari.
“Ini bukan sekadar masalah AS, tapi ancaman bagi stabilitas ekonomi global,” ujar Hiroshi Tanaka, ekonom dari Tokyo University.
Selain dampak finansial, penolakan pembayaran utang juga bisa memengaruhi hubungan diplomatik AS dengan negara-negara kreditor. China, misalnya, dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya di panggung global, sementara Jepang mungkin akan mencari alternatif investasi yang lebih aman.
Latar Belakang Pernyataan Trump
Trump, yang dikenal dengan pendekatan politiknya yang tidak konvensional, mengklaim bahwa utang AS yang membengkak adalah beban yang tidak perlu. “Kita tidak seharusnya terus-menerus membayar untuk sesuatu yang tidak lagi menguntungkan kita,” katanya dalam sebuah wawancara televisi baru-baru ini. Pernyataan ini sejalan dengan retorika kampanyenya yang kerap menyoroti pengelolaan ekonomi domestik.
Namun, para pakar memperingatkan bahwa menolak membayar utang bisa memicu krisis ekonomi yang lebih parah ketimbang krisis keuangan 2008. “Ini seperti meledakkan bom di jantung sistem keuangan global,” tegas Carter.
Meski pernyataan Trump menuai kontroversi, para analis menilai kemungkinan implementasi kebijakan ini masih kecil karena memerlukan persetujuan Kongres AS. Namun, dampak psikologis dari pernyataan ini sudah cukup untuk mengguncang kepercayaan investor.
Negara-negara kreditor kini berada di persimpangan jalan tetap mempercayai obligasi AS atau mulai mencari diversifikasi investasi untuk mengurangi risiko. Sementara itu, dunia menunggu langkah konkret dari AS untuk menenangkan pasar dan memastikan stabilitas ekonomi global.