BEIJING, CHINA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan sindiran tajam terhadap parade militer akbar di Beijing, China, yang digelar untuk memperingati 80 tahun kemenangan atas Jepang dalam Perang Dunia II.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menuding Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sedang “berkonspirasi melawan Amerika Serikat” saat menghadiri acara tersebut pada Rabu (3/9/2025).
Parade militer megah di Lapangan Tiananmen ini menjadi sorotan dunia, dihadiri oleh 27 kepala negara, termasuk Presiden Indonesia Prabowo Subianto. China memamerkan kekuatan militernya melalui jet tempur canggih, rudal hipersonik, hingga senjata laser mutakhir.
Acara ini tidak hanya menegaskan posisi China sebagai kekuatan global, tetapi juga menyoroti aliansi strategisnya dengan Rusia dan Korea Utara, yang memicu reaksi keras dari Trump.
“Semoga Presiden Xi dan rakyat China yang luar biasa merayakan hari yang luar biasa dan abadi. Mohon sampaikan salam hangat saya kepada Vladimir Putin, dan Kim Jong Un, saat Anda berkonspirasi melawan Amerika Serikat,” tulis Trump di media sosialnya saat parade berlangsung.
Trump juga menyinggung peran historis AS dalam membantu China selama Perang Dunia II. “Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah apakah Presiden Xi dari China akan menyebutkan besarnya dukungan dan ‘darah’ yang diberikan Amerika Serikat kepada China untuk membantunya mengamankan kebebasannya dari penjajah asing yang sangat tidak bersahabat,” sambungnya.
Ia menambahkan, “Banyak warga Amerika gugur dalam perjuangan Tiongkok meraih kemenangan dan kejayaan. Saya harap mereka dihormati dan dikenang atas keberanian dan pengorbanan mereka!”
Parade Militer China: Simbol Kekuatan dan Diplomasi
Parade militer ini menjadi panggung geopolitik yang menegaskan pengaruh China di kancah global. Xi Jinping, yang juga Ketua Komisi Militer Pusat, memimpin upacara dengan pidato singkat, menyerukan perdamaian dunia sambil memperingatkan potensi konflik global.
Kehadiran Putin dan Kim Jong Un, dua pemimpin yang memiliki hubungan erat dengan Beijing, memperkuat narasi China sebagai alternatif kepemimpinan global di tengah ketegangan dengan Barat.
Hubungan Rusia-Korut yang diperkuat pakta pertahanan tahun lalu, serta dukungan ekonomi China terhadap kedua negara, menjadi latar belakang kecurigaan Trump.
Menurut laporan, Korea Utara telah mengirim ribuan pasukan untuk mendukung Rusia dalam konflik Ukraina, sementara China menjadi penopang ekonomi utama Korut dengan menyumbang 90 persen impornya.
Respons Kremlin dan Ketegangan Global
Menanggapi tuduhan Trump, Kremlin melalui penasihat kebijakan luar negeri Yuri Ushakov membantah adanya konspirasi. “Tidak ada yang berkonspirasi, tidak ada yang merencanakan apa pun,” tegas Ushakov, menyebut pernyataan Trump sebagai sindiran ironis. Kremlin juga menegaskan bahwa ketiga pemimpin tidak memiliki niat melawan AS.
Meski demikian, parade ini mencerminkan dinamika geopolitik yang kian memanas. Absennya pemimpin Barat dalam acara tersebut, di tengah perang Ukraina dan ambisi nuklir Korea Utara, menambah kompleksitas hubungan internasional.
Analis menilai, China sedang memposisikan diri sebagai penyeimbang kekuatan AS, terutama setelah kebijakan tarif Trump memicu ketegangan ekonomi global.
Prabowo di Tengah Pusat Geopolitik
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam parade ini juga menarik perhatian. Berdiri sejajar dengan Xi Jinping, Putin, dan Kim Jong Un, Prabowo menunjukkan posisi strategis Indonesia di panggung dunia.
Keikutsertaannya mencerminkan upaya Indonesia menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan global, di tengah persaingan antara AS, China, dan Rusia.
Parade militer ini, dengan segala simbolisme dan implikasi geopolitiknya, menjadi pengingat bahwa dunia kini berada di persimpangan antara kerja sama dan konfrontasi. Trump, dengan nada sarkastiknya, menegaskan bahwa AS tetap mengawasi setiap langkah strategis lawan-lawannya di kancah internasional.